Di Balik Efisiensi AI Kesehatan, Ancaman Privasi Pasien Mengintai

- Kamis, 01 Januari 2026 | 17:06 WIB
Di Balik Efisiensi AI Kesehatan, Ancaman Privasi Pasien Mengintai

Risiko lain yang kerap diabaikan adalah bias algoritmik. Sistem AI bisa saja mengambil keputusan berdasarkan data yang tidak representatif. Bayangkan jika AI hanya dilatih dengan data populasi perkotaan, lalu dipakai untuk mendiagnosa pasien dari daerah terpencil. Akurasinya bisa meleset. Tanpa kontrol, bias ini malah memperdalam ketimpangan layanan kesehatan yang sudah ada.

Ancaman serangan siber juga nyata. Database kesehatan adalah sasaran empuk. Semakin banyak data yang tersimpan digital, semakin besar pula risiko kebocoran yang bisa dieksploitasi pelaku kriminal. Kasus-kasus global sudah membuktikannya. Di Indonesia sendiri, banyak tenaga kesehatan yang mengeluh. Kapasitas SDM dalam menggunakan AI masih rendah, sementara sistem digitalnya sendiri belum menyeluruh.

Pada akhirnya, data yang bersih dan terstruktur adalah syarat mutlak. Tanpa itu, AI cuma jadi alat yang berpotensi menghasilkan keputusan bias dan mengancam privasi.

Rekomendasi Kebijakan Publik

Lalu, apa yang harus dilakukan? Beberapa langkah strategis ini mungkin bisa jadi pertimbangan.

Pertama, regulasi spesifik untuk AI kesehatan harus diperkuat. Perlu aturan turunan dari UU PDP yang mengatur dengan jelas soal tanggung jawab hukum, transparansi algoritma, dan mekanisme audit berkala.

Kedua, standar keamanan dan privasi data nasional wajib dikembangkan. Standar ini harus mewajibkan enkripsi, kontrol akses ketat, dan audit independen bagi semua penyelenggara layanan.

Ketiga, terapkan audit algoritma berkala untuk memeriksa dan meminimalisir bias. Libatkan pengawasan dari profesional medis dalam proses ini.

Keempat, kapasitas SDM kesehatan digital harus ditingkatkan. Tenaga medis butuh pelatihan untuk memahami betul kekuatan dan batasan AI, sekaligus praktik terbaik melindungi data pasien.

Kelima, sediakan sistem pelaporan insiden digital yang responsif. Pasien harus punya saluran untuk melaporkan masalah privasi atau kesalahan AI, dengan jaminan perlindungan jika dirugikan.

AI membuka peluang revolusioner, itu tak terbantahkan. Tapi tanpa tata kelola risiko privasi yang matang, kita berisiko membangun sistem yang mengorbankan hak fundamental pasien. Ingat, efisiensi bukan tujuan akhir. Keadilan, keamanan, dan martabat pasien tetaplah yang utama.


Halaman:

Komentar