EDITORIAL: Kritik Bukan Teror, Lebih Baik Ajak Berdialog
Belakangan ini, kita disuguhi sederet peristiwa yang bikin geleng-geleng kepala. Mulai dari aktivis Greenpeace, Donny, yang rumahnya dikirimi bangkai ayam, sampai influencer Aceh, Sherly Annavita, yang mengaku diteror usai mengkritik penanganan bencana di Sumatra. Kasus-kasus intimidasi ini terasa absurd, tapi nyata adanya.
Praktik menyeramkan itu jadi sorotan dalam tayangan jurnalis senior Hersubeno Arief di kanal YouTube-nya, yang diunggah Selasa lalu. Dalam diskusi itu, pengamat politik Rocky Gerung ikut angkat bicara.
“Praktik semacam ini sangat berbahaya,” ujar Rocky Gerung.
“Apakah ini cermin pemerintah itu makin gerah dan kemudian enggak mau dikritik? Ini yang justru sangat serius,” tambahnya.
Menurut Rocky, siapa pun yang berkuasa punya kewajiban melindungi warga negaranya yang bersuara. “Mereka yang mengkritik itu harus dilindungi karena justru kejujuran datang dari kritik,” tegasnya.
Nah, di sisi lain, kita perlu ingat satu hal mendasar. Dalam kehidupan bersama, kritik itu sebenarnya hal yang wajar. Bahkan, ia diperlukan. Kritik adalah cara untuk menyampaikan pandangan, memperbaiki kesalahan, dan mendorong perubahan ke arah lebih baik. Sayangnya, tak jarang kritik malah dilihat sebagai ancaman. Pengkritik kerap dianggap musuh, disudutkan, atau malah diteror. Padahal, respons yang tepat bukanlah intimidasi, melainkan dialog yang terbuka.
Ketika seseorang mengkritik, tidak serta-merta artinya dia benci atau mau menjatuhkan. Banyak lho, kritik yang justru lahir dari rasa peduli. Orang yang peduli akan berani bersuara, meski tahu risikonya besar. Tapi coba bayangkan jika setiap suara dibalas dengan teror dan ancaman. Yang muncul bukan perbaikan, melainkan ketakutan. Dan akhirnya, kebisuan.
Teror terhadap pengkritik pada dasarnya adalah bentuk kegagalan berkomunikasi. Alih-alih membahas substansi masalah, yang dikritik memilih jalan pintas: menekan dan menakut-nakuti. Cara seperti ini bukannya menyelesaikan masalah, justru memperlebar jurang ketidakpercayaan. Kritik yang mestinya jadi bahan evaluasi, malah berubah jadi konflik berkepanjangan.
Di titik inilah dialog punya peran penting. Jalan dialog jauh lebih bermartabat. Lewat dialog, kedua belah pihak bisa saling mendengar. Kritik bisa dijelaskan, klarifikasi bisa diberikan. Dialog tidak menuntut kesepakatan mutlak, tapi menuntut sikap saling menghargai. Inilah esensi komunikasi yang dewasa.
Budaya meneror pengkritik hanya akan menciptakan suasana ngeri. Orang menjadi takut untuk berbicara, takut menyampaikan pendapat. Dalam suasana seperti ini, kebenaran sering dikorbankan demi rasa aman semu. Padahal, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang berani berdiskusi, bukan yang dibungkam rasa takut.
Kalau kritik dianggap keliru, jawablah dengan argumen, bukan ancaman. Kalau terasa keras, lunakkan dengan penjelasan. Teror tidak akan pernah menghilangkan kritik; ia hanya memendamnya. Dan kritik yang terpendam itu suatu saat bisa meledak jadi masalah lebih besar.
Mengajak dialog artinya membuka diri pada kemungkinan salah. Memang tidak gampang, karena seringkali melukai ego. Tapi justru di situlah letak kedewasaan. Pihak yang kuat bukan yang jago menakut-nakuti, melainkan yang mampu mendengarkan kritik tanpa merasa terancam.
Janganlah kita ciptakan suasana horor dalam kehidupan nyata. Jangan buat pengkritik merasa diawasi atau ditekan. Cara-cara menyeramkan cuma akan tinggalkan luka dan rasa tidak adil. Sebaliknya, dialog yang terbuka bisa menumbuhkan kepercayaan, meski perbedaan pendapat tetap ada.
Pada akhirnya, kritik adalah bagian dari demokrasi. Ia adalah wujud kebebasan berpikir dan upaya perbaikan. Kalau kritik dibungkam dengan teror, yang rusak bukan cuma hubungan antarorang, tapi juga nilai-nilai kemanusiaan kita. Kita semua akan rugi karena kebenaran kehilangan ruang untuk disuarakan.
Makanya, penting bagi siapa pun individu, kelompok, apalagi pemegang kekuasaan untuk menahan diri dari aksi intimidatif. Jangan teror pengkritik. Jangan ciptakan keadaan mencekam. Ajaklah mereka duduk bersama, berdialog, dan bahas persoalan dengan kepala dingin.
Dialog bukan tanda kelemahan, lho. Itu justru tanda kedewasaan. Dengan dialog, kritik bisa jadi jembatan menuju perbaikan, bukan sumber permusuhan. Kalau kita ingin masyarakat yang lebih adil dan manusiawi, pilihannya jelas: dialog, bukan teror; komunikasi, bukan intimidasi; saling menghormati, bukan rasa takut.
Rocky Gerung sendiri mengingatkan, upaya membungkam kritik lewat teror bakal berdampak buruk bagi pemerintahan sekarang di mata internasional. “Di era digital seperti sekarang, cara-cara mengendalikan opini publik melalui teror itu enggak jalan lagi. Satu yang diteror, yang lain juga akan bergerak,” jelasnya.
Dia menilai Presiden Prabowo mungkin kurang dapat informasi lengkap. “Mungkin mereka yang di samping Presiden menganggap bahwa Presiden harus dilindungi dari informasi negatif, dan itu berbahaya,” ucap Rocky.
Yang dikhawatirkannya, praktik pembungkaman ini akan menghubungkan pemerintahan sekarang dengan model kepemimpinan Orde Baru yang anti-kritik, atau era UU ITE sebelumnya. “Ketika kritik dibungkam, dia akan dihubungkan lagi dengan semacam model kepemimpinan Orde Baru yang anti kritik,” katanya.
Nah, loh.
(ed/jaksat/tom)
Artikel Terkait
Mantan Kapolres Bima Kota Tersangka Narkoba Belum Ditahan, Tunggu Proses Propam
Bali United Tumbang Lagi, Kekalahan Ketiga Beruntun Usai Ditaklukkan Persija
Eks Kapolres Bima Kota Tersangka Narkoba Belum Ditahan, Tunggu Sidang Kode Etik
IHSG Terkoreksi, Analis Masih Lihat Peluang Rally ke Level 8.440