Risma Bawa Solusi Ternak Mini untuk Korban Banjir Agam

- Kamis, 01 Januari 2026 | 01:18 WIB
Risma Bawa Solusi Ternak Mini untuk Korban Banjir Agam

Kabut masih menggantung di lereng bukit ketika Tri Rismaharini atau yang akrab disapa Risma tiba di lokasi bencana Agam, Sumatera Barat, Rabu kemarin. Mantan Mensos yang kini menangani bidang bencana di DPP PDIP itu datang bukan sekadar formalitas. Dia meninjau langsung kerusakan parah akibat banjir dan longsor, menyusuri lokasi yang porak-poranda.

Risma blusukan ke sejumlah titik pengungsian. Bantuannya nyata: sekitar tiga ton barang kebutuhan pokok dia bawa. Mulai dari pakaian, sembako, sampai peralatan seperti penjernih air dan selang. Yang menarik, semua barang itu dia beli sendiri. Bahkan, tanpa sungkan, Risma ikut angkat dan atur bantuan-bantuan itu ke dalam truk pengangkut.

Di tengah kesibukan, dia menyempatkan diri duduk bercakap dengan para pengungsi. Obrolannya santai, mencoba meraba apa yang paling mereka butuhkan saat ini. "Butuhnya apa sekarang?" tanyanya.

Momen pun bergulir lebih dalam. Di salah satu tenda, seorang warga mengeluarkan unek-unek. Katanya, setelah bencana, penghidupan mereka serasa mandek. Ekonomi keluarga makin susah.

Mendengar curhatan itu, Risma langsung menawarkan solusi. Bukan sekadar janji, tapi ide yang konkret.

"Saya bantu kayak ternak ayam, bertelur, lele bisa ditanam di (boks) sponge-sponge gitu gimana?" usul Risma pada warga.

Warga yang diajak bicara sempat ragu. Kekhawatiran utama mereka adalah soal lahan. "Lahannya itu, Bu," sahut seorang warga, raut wajahnya penuh tanda tanya.

Risma dengan cepat meyakinkan. Menurutnya, untuk model peternakan yang dia maksud, tak perlu lahannya luas-luas amat.

"Ndak-ndak, ndak banyak, Pak. Sekarang kayak ayam bertelur itu bisa tingkat gini. Jadi dia tiap hari bertelur," jelasnya sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Rupanya, ini bukan ide baru baginya. Risma bercerita, solusi serupa pernah dia terapkan pasca-erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur. Konsepnya sederhana: buatkan peternakan mini yang bisa dipindah. Nanti, saat masa tanggap darurat selesai dan warga punya rumah lagi, seluruh unit itu bisa diboyong ke tempat tinggal mereka yang baru.

"Jadi warga yang kena bencana itu saya buatkan itu sambil di Semeru. Jadi nanti kalau huniannya sudah (beres) itu dipindah aja gak papa itu dipindah aja," papar Risma.

"Wong itu kandangnya kayak plastik gitu," tambahnya, merinci bahwa infrastrukturnya pun tak rumit.

Mendengar penjelasan yang gamblang itu, wajah-wajah warga mulai cerah. Mereka mengangguk, tanda setuju. "Bisa, bisa," sahut mereka penuh harap.

Risma tak berhenti di wacana. Dia langsung menunjuk tim di lapangan untuk merealisasikannya. "Ya nanti sama pak Yogi ya, saya bantu nanti. Untuk isi kesibukan, kan lumayan," tandasnya, merujuk pada jajaran DPC PDIP setempat yang akan dia minta mengurus pembangunannya.

Kunjungan itu pun berakhir. Namun, yang tertinggal bukan hanya bantuan barang. Tapi secercah ide untuk bangkit kembali, yang dirancang agar bisa mereka bawa pulang nanti.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar