Di kala MURIANETWORK.COM, aku bermimpi. Sebagian besar penduduk Gaza berkumpul di pantai. Rasanya kami sedang bersiap untuk suatu peristiwa besar sesuatu yang telah Allah tetapkan agar kami menjadi saksi mata atasnya.
Di hadapan kami, Israel tampak seperti gumpalan daratan kering yang mengambang di atas laut. Aneh, tapi jelas terlihat.
Lalu, gempa bumi mengguncangnya. Dari segala penjuru. Kami menyaksikan bangunan-bangunan itu runtuh, satu demi satu, dalam keheningan yang mencekam.
Kami pun bertakbir. Suara kami bersahutan. Lalu, dari langit, terdengar jawaban takbir. Bahkan para syuhada, dari tempat peristirahatan mereka, ikut mengumandangkannya. Suara itu bergema, memenuhi ruang mimpi.
Tak lama setelahnya, laut bergerak. Ia menyergap sisa-sisa daratan itu dan menenggelamkan semua yang tersisa.
Seolah-olah tempat itu tak pernah ada sebelumnya. Hilang tanpa bekas.
Dunia pun menjadi tenang. Sangat tenang. Dalam ketenangan itu, kami bersujud. Sujud yang panjang, sangat panjang, hingga aku tak tahu kapan harus bangkit. Aku terhanyut di dalamnya, sampai akhirnya… aku terbangun.
"Ya Allah, perlihatkanlah kehancuran mereka pada kami. Segera, jangan ditunda-tunda. Ya Allah, jika kami menginginkan balasan di dunia ini, maka cukuplah bagi kami menjadi saksi pembalasan-Mu. Cukuplah menyaksikan lenyapnya mereka, wahai Allah."
(@YosraAklouk)
Artikel Terkait
PSM Makassar Bidik Kemenangan Kandang Atas Dewa United
BI Solo Buka Penukaran Uang Baru untuk Ramadan 2026, Wajib Pesan via Aplikasi
Calvin Verdonk Jadi Pemain Indonesia Pertama yang Tampil di Ligue 1 Prancis
Ongkos Politik Pilkada Membengkak, Ancam Kualitas Demokrasi