Ceramah Habib Rizieq Syihab di Majelis Taklim Mega Mendung, Kamis lalu, menyisipkan peringatan keras untuk Istana. Pendiri Markaz Syariah itu secara terbuka menyentil Presiden Prabowo Subianto soal penanganan bencana di Aceh dan Sumatra. Menurutnya, ada yang tak beres dengan laporan yang diterima sang pemimpin.
“Saya yakin Presidennya baik,” katanya. “Tapi pembisiknya tidak benar.”
Kekhawatiran utamanya sederhana: mengapa status bencana nasional belum juga ditetapkan, padahal kerusakannya disebut luar biasa? Rizieq menduga ada pihak-pihak yang sengaja menghalangi Presiden melihat fakta sesungguhnya di lapangan. Ia bahkan punya contoh nyata.
Menteri, Listrik, dan Budaya ‘ABS’
Ia menceritakan sebuah insiden. Saat seorang menteri mendampingi Presiden ke Aceh, masyarakat mengeluh listrik padam total. “Menteri langsung menjawab, ‘Beres Pak, sudah nyala semua’.”
Nyatanya? Presiden pulang, listrik tetap gelap.
“Menteri berani bohongi Presiden di depan khalayak ramai, di depan televisi,” ujarnya tegas. Itulah budaya laporan ‘Asal Bapak Senang’ atau ABS yang ia khawatirkan masih berlangsung. Ia membayangkan skenario serupa terjadi sekarang: laporan palsu soal listrik, pengurukan lumpur, atau pengumpulan korban, yang membuat Presiden berpikir semuanya sudah beres.
Kilas Balik ke 2015
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral