Habib Rizieq Sindir Pembisik Prabowo: Ada Apa dengan Laporan Bencana?

- Kamis, 18 Desember 2025 | 21:50 WIB
Habib Rizieq Sindir Pembisik Prabowo: Ada Apa dengan Laporan Bencana?

Ceramah Habib Rizieq Syihab di Majelis Taklim Mega Mendung, Kamis lalu, menyisipkan peringatan keras untuk Istana. Pendiri Markaz Syariah itu secara terbuka menyentil Presiden Prabowo Subianto soal penanganan bencana di Aceh dan Sumatra. Menurutnya, ada yang tak beres dengan laporan yang diterima sang pemimpin.

“Saya yakin Presidennya baik,” katanya. “Tapi pembisiknya tidak benar.”

Kekhawatiran utamanya sederhana: mengapa status bencana nasional belum juga ditetapkan, padahal kerusakannya disebut luar biasa? Rizieq menduga ada pihak-pihak yang sengaja menghalangi Presiden melihat fakta sesungguhnya di lapangan. Ia bahkan punya contoh nyata.

Menteri, Listrik, dan Budaya ‘ABS’

Ia menceritakan sebuah insiden. Saat seorang menteri mendampingi Presiden ke Aceh, masyarakat mengeluh listrik padam total. “Menteri langsung menjawab, ‘Beres Pak, sudah nyala semua’.”

Nyatanya? Presiden pulang, listrik tetap gelap.

“Menteri berani bohongi Presiden di depan khalayak ramai, di depan televisi,” ujarnya tegas. Itulah budaya laporan ‘Asal Bapak Senang’ atau ABS yang ia khawatirkan masih berlangsung. Ia membayangkan skenario serupa terjadi sekarang: laporan palsu soal listrik, pengurukan lumpur, atau pengumpulan korban, yang membuat Presiden berpikir semuanya sudah beres.

Kilas Balik ke 2015

Di sisi lain, Rizieq mengajak publik mengingat sikap Prabowo di masa lalu. Tepatnya pada 13 Oktober 2015. Kala itu, lewat media sosial, Prabowo mendesak pemerintah Jokowi segera menetapkan status bencana nasional untuk karhutla di Riau.

“Kenapa saat itu begitu sigap, sekarang setelah jadi Presiden sebaliknya?” tanyanya retoris. “Nah, ini saya yakin ada pembisik nih.”

Peringatan politik ini ia sampaikan tak lama setelah kembali mengajar, usai menjalani operasi leher selama dua bulan. Namun, ceramahnya tak hanya berisi kritik. Ada ajakan untuk introspeksi yang lebih dalam.

Bencana: Ujian, Peringatan, atau Azab?

Mengutip Surah Al-A’raf, ia menjelaskan bahwa bencana punya tiga kemungkinan makna. Bisa jadi ujian untuk mengangkat derajat orang saleh. Bisa pula peringatan bagi yang beriman agar segera bertaubat dari kekhilafan. Atau, yang terburuk, azab bagi mereka yang terus membangkang.

Karena itu, ia menekankan agar semua pihak berhenti saling menyalahkan. Rakyat diminta introspeksi, misalnya dengan tidak lagi buang sampah sembarangan. Di lain pihak, para pejabat juga harus berhenti memberikan izin penggundulan hutan secara serampangan.

“Jangan bikin pernyataan yang kontraproduktif atau menyinggung perasaan rakyat,” pesannya. “Mari kita saling introspeksi diri.”

Hanya dengan begitu, katanya menutup, keberkahan dari langit dan bumi bisa diharapkan turun kembali.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar