Ya Allah... Erangan Lega Usai 7 Jam Bergulat dengan Amukan Banjir Bandang

- Kamis, 04 Desember 2025 | 16:20 WIB
Ya Allah... Erangan Lega Usai 7 Jam Bergulat dengan Amukan Banjir Bandang

7 Jam Bergulat dengan Air Bah, Lalu Terdengar "Ya Allah..."

Sebuah video yang beredar luas di media sosial berhasil menyentuh hati banyak orang. Isinya sederhana, tapi menggambarkan sebuah perjuangan hidup yang luar biasa di tengah bencana banjir bandang yang melanda Sumatera. Intinya, tentang warga yang saling bantu menyelamatkan diri.

Bayangkan saja, tujuh jam lamanya mereka bertahan. Tujuh jam bergantung pada harapan dan pertolongan sesama, sementara air terus mengamuk dengan kekuatan yang mencekam.

Video yang viral itu, meski singkat, menangkap momen-momen genting itu. Terlihat bagaimana warga, dengan segala keterbatasan, berusaha menyelamatkan saudara mereka yang terjebak. Tidak ada seragam, tidak ada peralatan canggih. Hanya semangat gotong royong yang menyala-nyala di saat paling kritis.

"Begini pejabat yang berwenang masih bilang 'ga semengerikan di sosmed?'. mau maki-maki tapi agama Kami ga bolehin ..."
"Semoga kalian semua yang terkena musibah diberikan kekuatan dan kesabaran. semoga bencana ini segera berlalu..."

Komentar-komentar warganet seperti itu pun ramai bermunculan. Mereka menyoroti kesenjangan antara narasi resmi dan realita pahit yang dialami korban. Ada nada kecewa, marah, tapi juga doa yang tulus mengalir untuk keselamatan semua.

Di sisi lain, momen penyelamatan dalam video itu sendiri justru memberikan secercah cahaya. Ritme aksinya terasa spontan, kacau, namun penuh tekad. Jeritan, teriakan komando, dan akhirnya, erangan lega yang berujung pada ucapan syukur, "Ya Allah...". Itulah klimaksnya. Sebuah ungkapan yang keluar begitu saja, mewakili segala rasa lelah, takut, dan akhirnya, kelegaan yang tak terkira.

Peristiwa ini, di balik segala kesedihannya, mengingatkan kita pada satu hal: solidaritas manusia seringkali justru bersinar paling terang di saat gelap. Ketika infrastruktur mungkin gagal, hati manusia untuk menolong sesama bisa menjadi tali penyelamat yang paling kokoh.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar