Trump Bantah Keterbatasan Militer AS di Tengah Ketegangan dengan Iran

- Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:35 WIB
Trump Bantah Keterbatasan Militer AS di Tengah Ketegangan dengan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan tegas membantah adanya keterbatasan dalam kemampuan negaranya untuk memproyeksikan kekuasaan, khususnya di tengah ketegangan dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan program Axios, di mana ia menolak anggapan bahwa konflik bersenjata baru-baru ini telah memperlihatkan kelemahan militer dan politik Amerika. “Tidak ada batasan,” ujar Trump, seraya menegaskan bahwa pasukannya telah mengalahkan Iran secara militer secara menyeluruh.

Pernyataan tersebut muncul di tengah perkembangan diplomatik yang signifikan. Pada Selasa lalu, Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman yang memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sekaligus meletakkan dasar bagi perundingan lebih lanjut. Namun, Iran mengklaim bahwa kesepakatan itu ditandatangani oleh presiden AS karena “keputusasaan,” sebuah tuduhan yang langsung dibantah keras oleh Trump.

Dalam wawancara di acara ‘The Axios Show,’ Trump ditanya secara langsung apakah konflik dengan Iran telah mengajarkannya tentang batasan jangkauan politik dan militernya. Ia menjawab dengan nada yakin. “Saya belum mempelajari pelajaran itu. Saya tahu ada batasan, tetapi Anda tahu, tidak ada batasan,” katanya. Trump kemudian berargumen bahwa blokade AS terhadap pelabuhan Iran menjadi faktor kunci yang menunjukkan kekuatan militer Amerika, dan ia menyebut nota kesepahaman yang ditandatangani sebagai “penyerahan tanpa syarat” dari pihak Iran.

Di tengah klaim kemenangan itu, Trump juga menyatakan keyakinannya untuk mempertahankan gencatan senjata yang rapuh serta menekan Israel agar menahan diri dari menyerang Lebanon. “Mereka sangat menghormati saya. Dan mereka melakukan apa yang saya katakan,” klaimnya. Namun, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS-Iran mencakup semua front regional, termasuk Lebanon, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak menarik pasukan Israel dari negara tersebut. Sikap itu membuat Teheran menunda pembicaraan perdamaian lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat lalu.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa Hizbullah dan Israel telah menyetujui gencatan senjata setelah mediasi oleh AS dan Qatar. Namun, kedua pihak belum secara resmi mengonfirmasi perkembangan tersebut. Bahkan, menurut saluran intelijen sumber terbuka, militer Israel terus melancarkan serangan di Lebanon setelah pengumuman gencatan senjata. Tak lama setelah kesepakatan yang dilaporkan itu mulai berlaku, Netanyahu justru memuji serangan pasukannya. “Seperti yang saya instruksikan – IDF telah menyerang 150 target Hizbullah di Lebanon dengan dahsyat,” tulisnya di akun X berbahasa Ibrani miliknya.

Menanggapi situasi yang berlarut-larut, Teheran menekankan bahwa penundaan pertemuan dengan AS di Swiss bukanlah hal yang mendesak. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers pada Jumat lalu menyatakan bahwa pembicaraan akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang. Ketegangan antara klaim kekuasaan di satu sisi dan realitas diplomatik yang rumit di sisi lain masih menjadi warna utama dalam dinamika hubungan AS-Iran saat ini.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar