Denada Buka Suara Soal Gugatan Anak: Saya Tak Pernah Tidak Mengakui Ressa

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 05:50 WIB
Denada Buka Suara Soal Gugatan Anak: Saya Tak Pernah Tidak Mengakui Ressa

MURIANETWORK.COM - Lewat pengacaranya, Iqbal, Denada akhirnya buka suara. Penyanyi itu mengakui Ressa Rizky Rossano sebagai anak kandungnya. Pengakuan ini muncul di tengah gugatan penelantaran anak yang dilayangkan Ressa ke pengadilan.

"Diakui. Mba Denada itu tidak pernah tidak mengakui Ressa sebagai anaknya,"

Begitu penegasan Iqbal dalam sebuah wawancara virtual, Kamis lalu. Ia menjelaskan, kliennya masih dalam kondisi syok. Gugatan yang masuk ke Pengadilan Negeri Banyuwangi itu benar-benar di luar dugaannya.

"Kita tenang, cooling down-lah intinya. Supaya nanti kita sambil berpikir introspeksi diri juga,"

ujar Iqbal mencoba menggambarkan situasi yang dihadapi Denada.

Lebih Dari Sekadar Pengakuan

Menurut pengacara tersebut, pengakuan Denada bukan sekadar di mulut. Ia menegaskan bahwa penyanyi berdarah Batak itu tak punya niat mengabaikan anaknya. Justru sebaliknya.

Segala kebutuhan hidup Ressa, klaim Iqbal, sudah dipenuhi dengan layak oleh keluarga besar Denada. Bahkan, biaya hidup dan sekolah Ressa di Banyuwangi selama ini ditanggung oleh ibunya.

"Mas Ressa ini, bukan sekadar diakui atau gimana ya sebagai anak ya, bahkan dibiayai, difasilitasi, disekolahkan,"

Karena itulah Iqbal mengaku heran. Komunikasi katanya tetap berjalan, lalu kenapa tiba-tiba muncul gugatan?

"Kok tiba-tiba ada gugatan ini, ya juga aneh,"

katanya dengan nada bertanya-tanya.

Klaim Sopir Sebagai Pendidikan

Soal kabar yang menyebut Ressa harus bekerja sebagai sopir dengan gaji pas-pasan, Iqbal punya penjelasan sendiri. Ia membela kliennya dengan menyebut itu adalah bentuk didikan.

"Jadi gini saya luruskan ya,"

mulainya.

"Almarhum Bu Emilia Contessa ya katanya apa ya menjadikan Ressa ini sopir, itu gini Mbak. Kita ambil segi positif ya, itu pendidikan untuk anak supaya anak ini tidak manja."

Ia lalu membandingkan angka gaji Ressa dengan biaya hidup di Banyuwangi. Dua setengah juta rupiah per bulan, menurutnya, adalah jumlah yang besar di daerah tersebut.

"Gaji dua setengah (juta) di Banyuwangi besar tuh. Sehingga ketika kayak orang tua ini ngasih pendidikan kayak gitu ke anak, ya apa salahnya? Supaya dia tidak manja cuma minta nadong gini ke orang tua kan ya ndak enak lah,"

Pihak Denada menilai pola didikan seperti itu wajar. Bahkan, Iqbal menyebut ada budaya lain yang lebih keras lagi dalam mendidik anak.

"Bukan mengambil segi negatif 'ini kok tega jadi sopir', waduh salah kaprah itu,"

imbuhnya tegas.

Hidup Mewah di Banyuwangi?

Di sisi lain, Iqbal justru membongkar gaya hidup Ressa. Tuduhan penelantaran, katanya, sangat tidak masuk akal. Faktanya, Ressa disebut hidup berkecukupan, bahkan cenderung hedon untuk ukuran Banyuwangi.

"Lho tadi kan sudah tak jelaskan, Ressa ini bukan hanya sekadar diakui. Dia dibiayai, disekolahkan, difasilitasi,"

Ia menambahkan dengan nada sedikit tinggi,

"Sampeyan kalau tinggal di Banyuwangi mungkin sampeyan tahu, hidupnya hedon lho untuk kelas Banyuwangi."

Semua fasilitas yang dinikmati Ressa, termasuk mobil yang ia pakai, disebut Iqbal sebagai pemberian dari Denada.

"Ressa ini dibiayai, difasilitasi semua ada, dikasih mobil,"

pungkasnya, menutup pembelaannya untuk sang klien.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler