Sarah Sechan Usulkan Kurangi Sawit, Netizen Terbelah

- Kamis, 11 Desember 2025 | 15:10 WIB
Sarah Sechan Usulkan Kurangi Sawit, Netizen Terbelah

Sarah Sechan dan Komentarnya soal Sawit: Pro-Kontra Hingga Jadi Bahan Stitch

Banjir besar yang melanda Sumatra baru-baru ini ternyata memantik kesadaran banyak orang. Isu lingkungan tiba-tiba jadi pembicaraan hangat, tak terkecuali di kalangan publik figur. Sarah Sechan, salah satunya. Presenter kondang itu angkat bicara dengan saran yang cukup mengejutkan: ia mengajak untuk mengurangi konsumsi produk yang mengandung minyak kelapa sawit.

Nah, pendapat Sarah ini langsung menyulut reaksi. Bukan cuma di kolom komentar, tapi juga jadi bahan konten kreator. Seorang influencer tak lama kemudian membuat stitch video sebagai tanggapannya. Video itu pun viral, memecah opini netizen menjadi dua kubu.

Di satu sisi, banyak yang mendukung Sarah. Mereka melihat ajakannya sebagai langkah kecil yang bisa dilakukan siapa saja untuk mengurangi tekanan pada lingkungan, terutama terkait alih fungsi lahan. "Saya setuju dengan Sarah. Memang nggak mudah, tapi kalau bisa dikurangi kenapa nggak?" tulis seorang netizen.

"Intinya kan kesadaran. Kita tahu sawit itu kompleks, menyangkut hajat hidup banyak petani. Tapi kita juga nggak bisa tutup mata soal dampak ekologisnya," begitu kira-kira cuplikan argumen dari pihak yang pro.

Namun begitu, di sisi lain, kritik juga berdatangan. Sebagian besar menilai sarannya terlalu simplistis dan tidak melihat akar masalah yang sebenarnya. Mereka berargumen bahwa industri sawit adalah penopang ekonomi bagi jutaan pekerja, dan solusinya tidak bisa hitam putih. "Lha wong alternatifnya juga belum tentu lebih sustainable. Malah bisa impor, yang jejak karbonnya makin gede," tukas seorang komentator.

Stitch dari influencer tadi, secara garis besar, mewakili suara kontra ini. Dengan nada yang sedikit sarkastik, sang kreator mempertanyakan efektivitas gerakan personal di tengah sistem industri yang begitu besar. Alih-alih menyalahkan konsumen retail, menurutnya, regulasi dan pengawasan ketat terhadap korporasi jauh lebih penting.

Jadilah, perdebatan ini seperti dua sisi mata uang. Sarah Sechan, dengan platformnya, berhasil membuka kotak Pandora isu sawit yang selama ini sering dianggap remeh. Reaksinya yang beragam dari dukungan sampai kritik pedas menunjukkan betapa rumit dan sensitifnya topik ini. Di media sosial, semuanya serba cepat. Satu pernyataan bisa melesat, dikomentari, dan diperdebatkan dalam hitungan jam.

Pada akhirnya, terlepas dari setuju atau tidak, yang jelas isu ini sekarang jadi bahan obrolan. Dan itu mungkin hal yang baik. Sebab, dari perbincangan, paling tidak muncul kesadaran bahwa persoalan lingkungan seperti banjir di Sumatra itu penyebabnya kompleks. Bukan soal salah satu bahan di dapur kita semata, tapi tentang pilihan kebijakan, keserakahan, dan tanggung jawab kolektif yang jauh lebih besar.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler