Kontroversi Video Estetik Asisten Prabowo di Lokasi Bencana

- Kamis, 04 Desember 2025 | 13:40 WIB
Kontroversi Video Estetik Asisten Prabowo di Lokasi Bencana

Asisten Pribadi Prabowo yang Dihujat, Ternyata Pernah Dijemput Pakai Pesawat RI-1

Nama Agung Surahman tiba-tiba ramai diperbincangkan. Dia adalah asisten pribadi atau aspri Presiden Prabowo Subianto yang kini jadi sorotan tajam di media sosial.

Pemicunya sederhana: sebuah unggahan di Threads. Tapi kontennya yang berjudul "A Day In My Life" itu justru memantik amarah banyak orang. Bagaimana tidak? Video itu direkamnya saat berkunjung ke lokasi bencana banjir dan longsor di Sumatra. Dengan gaya estetik dan narasi personal, videonya dinilai sangat tak sensitif. Banyak yang geram, merasa Agung tak punya empati sama sekali terhadap korban yang sedang berduka.

Menurut sejumlah saksi yang melihat unggahan itu, kemarahan publik begitu kencang. Hujatan berdatangan ke akunnya.

Namun begitu, ini bukan pertama kalinya Agung berada di pusat perhatian. Ada satu momen yang mungkin luput dari ingatan publik. Awal 2025 silam, dia pernah dijemput secara khusus oleh Presiden Prabowo. Yang mengejutkan, penjemputannya menggunakan pesawat Kepresidenan RI-1.

Kala itu, Presiden menyempatkan singgah ke Bengkulu pada suatu Minggu, tepatnya 6 April. Tujuannya jelas: menjemput Agung Surahman yang akan mendampingi beliau dalam kunjungan kerja ke Malaysia.

Setelah video "A Day In My Life" itu viral dan kritikan kian menjadi, Agung akhirnya angkat bicara. Melalui akun pribadinya, dia menyampaikan permintaan maaf sekaligus klarifikasi.

"Saya Agung Surahman atas nama Pribadi, Mohon maaf yang sebesarnya kepada seluruh Pimpinan dan masyarakat Bengkulu kejadian ini di luar dugaan saya," tulisnya.

Dia lalu mencoba menjelaskan soal insiden penjemputan dengan pesawat kepresidenan itu.

"Ini sangat pribadi dan mendadak. Karena memang Bapak Presiden dijadwalkan berkunjung ke luar negeri Malaysia dan saya diminta untuk ikut mendampingi beliau, namun karena saya sedang berada di Bengkulu, saya sudah sampaikan ke Bapak Presiden saya saja yang menyusul ke Jakarta, namun beliau memutuskan untuk ke Bengkulu dahulu karena juga lintas sejalur ke Malaysia," sambung Agung dalam keterangannya.

Jadi begitulah. Di satu sisi, ada kesalahan yang diakui. Di sisi lain, ada fakta tentang kedekatan dan kepercayaan khusus yang diterimanya. Kontroversi ini, mau tak mau, menyoroti bagaimana gaya komunikasi pejabat publik di era media sosial bisa menjadi bumerang. Semuanya berjalan sangat cepat. Dan publik, seperti biasa, punya memori dan penilaiannya sendiri.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler