Senin pagi di rumah mereka berjalan seperti biasa, sampai tiba-tiba Kaluna mengeluh. "Badanku pegal, Bu. Aku enggak sekolah hari ini, ya?" ujar sang putri kepada ibunya, Fitri. Permintaan izin itu pun dikabulkan. Tapi siapa sangka, beberapa jam berselang, suasana berubah. Kaluna justru merengek minta diantar ke sekolah. Rupanya, dia sudah kangen bermain dengan teman-temannya.
Namun begitu, drama kecil itu belum berakhir. Kaluna bahkan menangis, lalu melontarkan permintaan yang membuat ibunya tersenyum. Dia minta dicarikan sekolah yang "tidak punya peraturan". Pasalnya, dia ingin berangkat jam sepuluh pagi, bukan di jam awal seperti biasanya.
Cerita Fitri dan Kaluna ini sebenarnya menggambarkan fase umum yang dialami balita. Di usia dimana mereka aktif mengenal dunia, konsep seperti "aturan" memang sesuatu yang masih abstrak. Mereka lebih memahami rutinitas dan interaksi langsung ketimbang penjelasan teoritis yang rumit.
Lalu, Kapan Saat yang Tepat untuk Mengenalkan Aturan?
Menanggapi hal ini, Psikolog Klinis Raden Mutiara Puspa Wijaya, M.Psi., memberikan penjelasannya. Menurutnya, memberi penjelasan panjang lebar tentang aturan kepada anak balita seringkali sia-sia.
"Karena sebenarnya mereka belum memahami sesuatu yang bersifat konsep. Namun, mereka bisa mulai dikenalkan melalui kebiasaan," ujar Mutiara.
Pemahaman konseptual tentang aturan, lanjutnya, biasanya baru benar-benar berkembang saat anak menginjak usia sekitar 8 tahun atau lebih. Jadi, untuk anak di bawah itu, orang tua tak perlu repot-repot membuat penjelasan yang berbelit.
Di sisi lain, langkah yang jauh lebih efektif adalah dengan menggunakan kalimat sederhana dan konkret. Misalnya, "Kalau sekolah, kita berangkat pagi. Kalau sudah siang, sekolahnya sudah selesai."
Kalimat seperti itu lebih mudah dicerna. Sebab, bagi balita, inti dari disiplin bukanlah menaati aturan tertulis. Melainkan tentang tiga hal: mengenal waktu, membentuk kebiasaan rutin, dan memahami batas-batas yang sederhana.
Kuncinya ada pada konsistensi. Orang tua dianjurkan untuk mengulang kalimat pendek dan jelas itu setiap hari. Pendekatan sederhana namun konsisten ini membantu anak merasa nyaman dengan rutinitasnya, tanpa terbebani oleh konsep aturan yang masih terlalu berat untuk dipahami.
"Konsistensi orang tua jauh lebih penting daripada penjelasan panjang," tutup Mutiara menegaskan.
Artikel Terkait
Jam Kerja Dipangkas Selama Ramadan, Aturan Berbeda di Indonesia dan Timur Tengah
Presiden Prabowo Teken Perpres SMA Unggul Garuda untuk Cetak SDM Unggul
Jalan Kramat Senen Ramai Pemburu Takjil Nasi Kapau Jelang Buka Puasa
LPDP Tegaskan Alumni Kontroversial DS Telah Selesaikan Kewajiban Kontraktual