Senin pagi di rumah mereka berjalan seperti biasa, sampai tiba-tiba Kaluna mengeluh. "Badanku pegal, Bu. Aku enggak sekolah hari ini, ya?" ujar sang putri kepada ibunya, Fitri. Permintaan izin itu pun dikabulkan. Tapi siapa sangka, beberapa jam berselang, suasana berubah. Kaluna justru merengek minta diantar ke sekolah. Rupanya, dia sudah kangen bermain dengan teman-temannya.
Namun begitu, drama kecil itu belum berakhir. Kaluna bahkan menangis, lalu melontarkan permintaan yang membuat ibunya tersenyum. Dia minta dicarikan sekolah yang "tidak punya peraturan". Pasalnya, dia ingin berangkat jam sepuluh pagi, bukan di jam awal seperti biasanya.
Cerita Fitri dan Kaluna ini sebenarnya menggambarkan fase umum yang dialami balita. Di usia dimana mereka aktif mengenal dunia, konsep seperti "aturan" memang sesuatu yang masih abstrak. Mereka lebih memahami rutinitas dan interaksi langsung ketimbang penjelasan teoritis yang rumit.
Lalu, Kapan Saat yang Tepat untuk Mengenalkan Aturan?
Menanggapi hal ini, Psikolog Klinis Raden Mutiara Puspa Wijaya, M.Psi., memberikan penjelasannya. Menurutnya, memberi penjelasan panjang lebar tentang aturan kepada anak balita seringkali sia-sia.
"Karena sebenarnya mereka belum memahami sesuatu yang bersifat konsep. Namun, mereka bisa mulai dikenalkan melalui kebiasaan," ujar Mutiara.
Artikel Terkait
Tempe Naik Kelas: Riset BRIN Ungkap Potensi Superfood Asli Indonesia
Cokelat Hitam dan Rahasia Awet Muda: Antara Harapan dan Fakta Ilmiah
Drama Obat Balita: Trik Jitu Agar Si Kecil Tak Lagi Menolak
Tren Hijab 2026: Minimalis Tergeser, Gaya Ekspresif dan Arsitektural Jadi Primadona