Top 10 Saham Top Loser 3-7 November 2025: BABY Anjlok 38%, Ini Daftar Lengkapnya

- Sabtu, 08 November 2025 | 09:35 WIB
Top 10 Saham Top Loser 3-7 November 2025: BABY Anjlok 38%, Ini Daftar Lengkapnya
Top Loser Saham Pekan Ini: Deretan Emiten yang Anjlok 3-7 November 2025

Deretan Saham Top Loser Pekan 3-7 November 2025: BABY Anjlok 38%

Pasar saham Indonesia mencatatkan sejumlah saham yang mengalami tekanan jual berat selama pekan perdagangan 3 hingga 7 November 2025. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan menguat, beberapa emiten justru tercatat sebagai saham top loser dengan penurunan yang signifikan.

Saham dengan Penurunan Terdalam Pekan Ini

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Multitrend Indo Tbk (BABY) memimpin daftar saham yang merosot dengan penurunan fantastis sebesar 38,32 persen. Harga saham BABY terkoreksi dari level Rp535 menjadi Rp330 per saham.

Berikut adalah daftar lengkap 10 saham top loser yang mengalami koreksi tajam sepanjang pekan tersebut:

  • PT Multitrend Indo Tbk (BABY): Turun 38,32% ke Rp330
  • PT First Media Tbk (KBLV): Melemah 26,42% ke Rp142
  • PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL): Merosot 25,97% ke Rp342
  • PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE): Anjlok 25,81% ke Rp8.550
  • PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST): Turun 20,13% ke Rp595
  • PT Remala Abadi Tbk (DATA): Melemah 20,00% ke Rp4.700
  • PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk (SMGA): Tertekan 15,33% ke Rp116
  • PT FKS Multi Agro Tbk (FISH): Menurun 14,50% ke Rp1.680
  • PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR): Melemah 14,16% ke Rp400
  • PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI): Turun 13,50% ke Rp173

Kinerja Pasar Secara Keseluruhan

Di tengah koreksi tajam pada beberapa saham tersebut, pasar modal Indonesia secara umum masih menunjukkan tren positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 2,83 persen pada level 8.394,59 dibandingkan posisi pekan sebelumnya di 8.163,88.

Kapitalisasi pasar BEI juga tercatat tumbuh 3,09 persen menjadi Rp15.316 triliun. Namun, rata-rata nilai transaksi harian justru mengalami penurunan sebesar 22,46 persen menjadi Rp17,55 triliun, mengindikasikan aktivitas perdagangan yang lebih lesu meski indeks menguat.

Informasi ini memberikan gambaran bagi investor untuk lebih berhati-hati dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi, terutama pada saham-saham yang volatilitasnya tinggi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar