Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN). Pada akhir triwulan II-2026, yield SBN seri benchmark tenor 10 tahun naik 31 basis poin (bps) secara quarter to quarter (qtq) menjadi 7,14 persen.
Menurut Purbaya, kenaikan yield tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik, yang memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi global dan mendorong investor untuk mengurangi risiko (risk-off) di pasar SBN. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Meskipun terjadi kenaikan yield, investor nonresiden justru mencatatkan pembelian bersih (net-buy) di pasar SBN sebesar Rp32,09 triliun selama triwulan II-2026. Secara kumulatif, net-buy investor asing sepanjang tahun 2026 mencapai Rp6,99 triliun.
Hingga 30 Juli 2026, investor nonresiden masih mencatatkan net-buy Rp6,36 triliun secara month to date (mtd) atau Rp13,35 triliun secara year to date (ytd). Pada periode yang sama, yield SBN tenor 10 tahun naik 15 bps (mtd) atau 122 bps (ytd) ke level 7,29 persen. Kenaikan ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih berlanjut akibat konflik AS-Iran pasca gencatan senjata dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Purbaya melanjutkan, kenaikan yield tenor 10 tahun sejak awal tahun hingga 30 Juli 2026 juga dialami oleh sejumlah negara berkembang lainnya. Turki mencatat kenaikan tertinggi sebesar 524 bps, disusul Filipina 148 bps, Brasil 106 bps, Korea Selatan 92 bps, Polandia 59 bps, dan Afrika Selatan 55 bps.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Tegaskan Tak Berniat Maju sebagai Gubernur BI
Menkeu Akui Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Melambat, Proyeksi di Bawah 5,6 Persen
Kedubes AS di Timur Tengah Imbau Warganya Bersiap Evakuasi
Purbaya Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak, Fokus Perluas Basis Penerimaan