Semesta Indovest Beri Rating Beli Saham Tugu Pratama, Target Rp1.725

- Jumat, 17 Juli 2026 | 07:00 WIB
Semesta Indovest Beri Rating Beli Saham Tugu Pratama, Target Rp1.725

PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) mendapat sentimen positif dari kalangan analis. Semesta Indovest Sekuritas memulai cakupan riset terhadap emiten asuransi umum tersebut dengan rekomendasi beli dan target harga Rp1.725 per saham.

Analis Semesta Indovest Sekuritas Nicholas Dharmawan menilai valuasi TUGU saat ini belum mencerminkan kualitas fundamental perusahaan. Saham TUGU masih diperdagangkan pada kisaran 0,4 kali price-to-book value (PBV), jauh lebih rendah dibanding rata-rata perusahaan asuransi umum, meski memiliki permodalan yang solid, profitabilitas yang terus membaik, dan prospek pertumbuhan yang menarik.

"Kami menginisiasi riset TUGU dengan rekomendasi BUY dan target harga Rp1.725 per saham. Kami melihat valuasi TUGU saat ini masih terlalu murah dibandingkan prospek pertumbuhan laba dan kualitas fundamentalnya," ujar Nicholas dalam riset yang dikutip Jumat (17/7/2026).

Menurut Nicholas, dua faktor utama akan menopang kinerja TUGU dalam beberapa tahun ke depan. Pertama, meningkatnya disiplin underwriting yang mendorong perbaikan rasio operasional. Kedua, kenaikan pendapatan investasi seiring membesarnya portofolio investasi dan masih tingginya suku bunga. Kedua faktor itu diperkirakan mampu mendorong laba bersih TUGU tumbuh dari Rp711 miliar pada 2025 menjadi sekitar Rp942 miliar pada 2027.

Selain prospek laba, TUGU memiliki sejumlah keunggulan kompetitif. Dari sisi keuangan, posisi permodalan kuat. TUGU mampu mempertahankan rating global dari AM Best Financial Strength Rating A- selama 10 tahun berturut-turut. Menurut Nicholas, rekam jejak itu menunjukkan kekuatan modal, kualitas manajemen risiko, serta kredibilitas dalam memperoleh kapasitas reasuransi untuk menangani proyek bernilai besar.

Prospek industri juga mendukung. Penetrasi asuransi di Indonesia memang masih rendah, namun segmen asuransi umum menunjukkan pertumbuhan lebih baik dibanding industri secara keseluruhan. Hal itu memberi ruang ekspansi besar bagi perusahaan dengan kapasitas underwriting dan modal kuat seperti TUGU.

Di luar faktor fundamental, perhatian investor tertuju pada wacana konsolidasi perusahaan asuransi umum BUMN di bawah ekosistem Danantara. Nicholas menilai perkembangan itu sebagai katalis yang layak diperhatikan, meski prosesnya masih pada tahap awal sehingga belum dapat disimpulkan bentuk maupun dampaknya terhadap nilai perusahaan.

Ia menjelaskan, konsolidasi di industri asuransi memiliki kompleksitas berbeda dibanding perbankan. Dalam transaksi asuransi, perusahaan tidak hanya menggabungkan aset dan modal, tetapi juga mengambil alih portofolio risiko, kewajiban klaim, serta kecukupan cadangan dari entitas yang bergabung. Proses integrasi biasanya membutuhkan waktu lebih panjang dan analisis lebih mendalam.

Meski demikian, Nicholas berpandangan TUGU berada dalam posisi menguntungkan jika konsolidasi terealisasi. TUGU memasuki periode itu dengan modal kuat, disiplin underwriting teruji, serta hubungan bisnis yang dibangun puluhan tahun, sehingga berpotensi memperoleh tambahan pangsa pasar tanpa menghadapi risiko integrasi sebesar perusahaan lain.

Pengalaman panjang TUGU di sektor energi, hubungan strategis dengan Pertamina dan SKK Migas, serta peringkat internasional dari AM Best merupakan aset yang tidak mudah direplikasi. Faktor-faktor itu akan menjadi pertimbangan penting jika konsolidasi perusahaan asuransi umum BUMN di bawah Danantara benar-benar direalisasikan.

Dengan valuasi diskon, prospek laba positif, permodalan kuat, dan peluang dari konsolidasi industri, Nicholas meyakini TUGU berpeluang mengalami re-rating dalam jangka menengah. Namun, ia menegaskan perkembangan konsolidasi Danantara masih pada tahap awal sehingga investor perlu mencermati struktur dan implementasi kebijakan sebelum memasukkan potensi itu sepenuhnya ke dalam valuasi saham.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags