Peretasan Kripto Hampir Tembus USD1 Miliar, AI Disorot sebagai Solusi Keamanan

- Rabu, 01 Juli 2026 | 21:40 WIB
Peretasan Kripto Hampir Tembus USD1 Miliar, AI Disorot sebagai Solusi Keamanan

Nilai aset kripto yang hilang akibat peretasan sepanjang semester pertama 2026 hampir menyentuh USD1 miliar. Berdasarkan data dari DeFiLlama, sedikitnya 127 insiden keamanan menyebabkan kerugian sekitar USD947 juta pada periode Januari hingga Juni 2026. Kondisi ini menunjukkan pola serangan pada ekosistem blockchain semakin kompleks, sehingga sistem keamanan dinilai perlu diperbarui untuk menghadapi ancaman yang terus berevolusi.

Kompleksitas ancaman tercermin dari dua insiden peretasan pada April 2026 yang menimpa Drift Protocol dan KelpDAO, dengan total kerugian sekitar USD577 juta. Laporan TRM Labs mencatat bahwa kedua insiden tersebut menyumbang sekitar 76 persen dari total nilai aset kripto yang dicuri hingga April 2026. Meski menggunakan metode berbeda, kedua serangan menunjukkan bahwa pelaku tidak lagi hanya mengeksploitasi celah pada kode, tetapi juga menyerang infrastruktur blockchain dan memanfaatkan kelengahan manusia lewat operasi social engineering.

Di tengah meningkatnya ancaman, teknologi artificial intelligence (AI) mulai dilirik sebagai solusi baru dalam keamanan blockchain. Berbeda dengan audit tradisional yang dilakukan secara berkala, AI memungkinkan proses analisis smart contract dan pemantauan risiko secara terus-menerus. Dengan demikian, berbagai potensi kerentanan dapat diidentifikasi sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar.

CEO Indodax William Sutanto menilai perkembangan AI membuka peluang bagi industri kripto dan blockchain untuk memperkuat sistem keamanan secara lebih proaktif.

“Yang berubah saat ini bukan hanya jumlah serangan yang terjadi, tetapi juga tingkat kompleksitasnya. Pelaku kejahatan siber semakin terorganisir dan memanfaatkan berbagai metode yang sulit dideteksi dengan pendekatan konvensional. Karena itu, sistem keamanan juga harus mampu beradaptasi lebih cepat, dan AI menjadi salah satu teknologi yang memiliki potensi besar untuk mendukung upaya tersebut,” ujar William di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Pemanfaatan AI mulai diterapkan oleh sejumlah perusahaan teknologi, seperti Frosty yang dikembangkan Coinbase dan Mythos dari Anthropic. Selain mempercepat audit internal dan analisis smart contract, teknologi ini juga mampu melakukan on-chain analysis, memantau perubahan perilaku protokol, serta mengidentifikasi aktivitas transaksi yang tidak wajar secara real-time. Dengan demikian, potensi ancaman dapat dideteksi lebih dini.

Meski demikian, William menegaskan bahwa AI bukanlah solusi tunggal terhadap seluruh ancaman keamanan di industri aset digital dan kripto.

“AI bertindak sebagai resource multiplier yang mempercepat deteksi teknis. Namun, keamanan blockchain tetaplah ekosistem dengan perlindungan berlapis. Fondasinya terletak pada tata kelola yang teregulasi, audit independen, manajemen akses yang ketat, peningkatan kesadaran di tingkat pengguna, termasuk KYC dan security hygiene, serta sumber daya manusia yang kompeten dalam mengambil keputusan yang tepat. Karena, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan kompetensi, integritas, dan human judgement di belakangnya,” tambahnya.

Menurut William, nilai tambah AI saat ini tidak hanya terletak pada kemampuannya mempercepat proses analisis, tetapi juga pada kemampuannya melakukan pemantauan risiko secara berkelanjutan. Pendekatan ini memungkinkan pelaku industri mendeteksi potensi ancaman lebih dini sekaligus mempercepat proses mitigasi sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar.

“Ke depan, ukuran keamanan blockchain tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa sering sebuah sistem diaudit, tetapi juga oleh seberapa cepat sistem tersebut mampu mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman yang terus berkembang. Di sinilah AI mulai mengambil peran yang semakin penting sebagai pendukung sistem keamanan yang lebih adaptif,” tutupnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags