Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari dua persen pada Kamis setelah sebuah kapal kargo dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di dekat perairan Oman. Insiden itu memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz, salah satu arteri paling vital bagi pasokan energi global.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah situasi yang masih rapuh pasca serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Aliran minyak dan gas sempat terganggu parah, meskipun kemudian kesepakatan awal antara AS dan Iran membuka kembali selat yang sempat diblokade secara efektif oleh Iran. Kini, insiden proyektil itu kembali menguji daya tahan gencatan senjata yang belum lama terbangun.
Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) pada hari yang sama menghentikan sementara upaya pengawalan kapal dan awak yang hendak melintasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah kapal kargo melaporkan adanya dugaan serangan. Dua pejabat AS kemudian menyatakan kepada Reuters bahwa Iran-lah yang menembaki kapal tersebut saat berupaya melintasi selat. Sementara itu, otoritas Iran menyatakan tidak dapat menjamin keamanan kapal yang berlayar di luar jalur resmi yang telah ditetapkan.
Kenaikan harga langsung terlihat di pasar. Minyak mentah Brent ditutup menguat 2,1 persen menjadi 75,26 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,3 persen menjadi 71,92 dolar AS per barel. Padahal sehari sebelumnya, kedua acuan harga tersebut justru berada di level terendah sejak 27 Februari, sehari sebelum perang pecah. Saat itu, volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz justru meningkat ke titik tertinggi sejak konflik dimulai.
Analis dari konsultan energi Rystad Energy mengingatkan bahwa situasi ini bisa berdampak lebih luas. "Persediaan di tangki penyimpanan di seluruh kawasan Teluk berada sekitar 50 persen hingga 60 persen penuh. Jika lalu lintas kapal tanker melalui selat tidak segera pulih, produsen harus mengurangi produksi, dan pemulihan penuh dapat tertunda hingga tahun depan," tulis mereka dalam laporan riset.
Di tengah ketegangan ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakhiri kunjungannya ke Timur Tengah. Ia menyampaikan kepada sekutu-sekutu di kawasan Teluk bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus mempertimbangkan kepentingan mereka. AS bersama enam anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menegaskan bahwa perdamaian yang berkelanjutan harus mencakup penyelesaian terkait rudal balistik Iran, drone, serta dukungan Iran terhadap kelompok proksi. Mereka juga mendukung prinsip pelayaran bebas tanpa hambatan di Selat Hormuz, tanpa pungutan atau upaya pengendalian jalur.
"Jika Iran mengancam atau memblokir kapal-kapal di selat itu, maka kita akan menghadapi masalah," ujar Rubio. Ia sebelumnya menegaskan bahwa tidak ada negara yang berhak mengenakan biaya atas penggunaan jalur perairan internasional. Namun, laporan Wall Street Journal menyebutkan Iran memperkirakan pungutan untuk layanan keamanan, keselamatan, dan lingkungan di selat tersebut dapat menghasilkan 40 miliar dolar AS per tahun bagi negara-negara yang terlibat.
Dampak insiden ini tidak hanya terasa di pasar minyak mentah. Kontrak berjangka bensin AS melonjak sekitar lima persen, sementara harga diesel AS naik sekitar empat persen. Analis juga mencatat bahwa faktor teknikal turut mendorong kenaikan, termasuk aksi pembelian dan penutupan posisi jual. Konsultan energi Gelber & Associates dalam catatan risetnya menyebut pasar minyak sebelumnya telah mengalami tekanan jual dan berada dalam kondisi semakin jenuh jual. Meski menguat pada Kamis, kedua acuan harga minyak tersebut masih berada dalam wilayah teknikal oversold selama lebih dari sepekan.
Artikel Terkait
Harga Emas Menguat Setelah Data Inflasi AS Sesuai Ekspektasi, Dolar Melemah
MSCI Tunda Keputusan Status Indonesia, Pasar Lega Tapi Arus Modal Asing Masih Terbatas
Wall Street Beragam: Nasdaq Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi, Dow Menguat Tipis
ERAL Bagikan Dividen Rp41,5 Miliar, Penjualan Tembus Rp6,49 Triliun