Wall Street Terkoreksi Tajam, Aksi Jual Saham Semikonduktor dan Kekhawatiran Belanja AI Berutang Hantam Nasdaq

- Rabu, 24 Juni 2026 | 06:50 WIB
Wall Street Terkoreksi Tajam, Aksi Jual Saham Semikonduktor dan Kekhawatiran Belanja AI Berutang Hantam Nasdaq

Wall Street kembali bergolak. Indeks Nasdaq dan S&P 500 ditutup pada level terendah dalam lebih dari sepekan pada perdagangan Rabu (24/6/2026), terseret aksi jual besar-besaran di saham-saham semikonduktor. Para investor tengah mencermati peningkatan belanja kecerdasan buatan (AI) yang didanai utang, sembari bersiap menghadapi sikap Federal Reserve yang diprediksi semakin hawkish. Indeks Dow Jones Industrial Average juga ikut melemah, meski tipis.

Indeks Philadelphia SE Semiconductor (.SOX) ambles hingga 7,9 persen, sementara sektor teknologi informasi S&P 500 (.SPLRCT) terkoreksi 3,7 persen. Nvidia (NVDA.O) turun 4,1 persen, Alphabet (GOOGL.O) melemah 1 persen, dan sejumlah produsen chip seperti Intel (INTC.O), Marvell Technology (MRVL.O), serta Advanced Micro Devices (AMD.O) mencatat penurunan antara 5,8 persen hingga 9,4 persen.

“Beberapa berita terbaru mengenai AI menimbulkan pertanyaan mengenai seluruh pengeluaran yang dilakukan serta belanja modal dan peningkatan kapasitas untuk semikonduktor,” ujar Thomas Martin, Manajer Portofolio senior di Globalt.

Kekhawatiran itu kian menjadi setelah SpaceX milik Elon Musk (SPCX.O) yang baru saja melantai di bursa bulan ini, ikut memanfaatkan pasar obligasi untuk menggalang dana. Langkah ini memperkuat persepsi bahwa belanja AI oleh perusahaan hyperscaler mulai bergantung pada utang, yang dinilai berisiko oleh pasar.

Saham SpaceX sendiri justru naik 1 persen, setelah sebelumnya mengalami tekanan dalam tiga sesi beruntun. Sementara itu, produsen chip memori Micron Technology (MU.O) dan SanDisk (SNDK.O) dua saham dengan kinerja terbaik di S&P 500 tahun ini masing-masing ambles sekitar 13 persen. Laporan laba Micron yang dirilis pada hari yang sama diharapkan bisa memberi petunjuk soal prospek sektor ini setelah reli yang sangat tajam sepanjang tahun.

Secara lebih rinci, Dow Jones Industrial Average (.DJI) ditutup turun 47,22 poin atau 0,09 persen ke 51.665,49. S&P 500 (.SPX) kehilangan 107,32 poin atau 1,44 persen ke 7.365,47, dan Nasdaq Composite (.IXIC) anjlok 579,56 poin atau 2,21 persen ke 25.587,04.

Indeks Volatilitas CBOE (.VIX) yang menjadi barometer ketakutan di Wall Street melonjak 2,23 poin ke 19,52, level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Meski tekanan terjadi di sektor teknologi, enam dari sebelas sektor utama S&P 500 justru ditutup di zona hijau. Sektor barang konsumsi pokok (.SPLRCS) mencatat kenaikan terbesar sebesar 1,8 persen. Investor mulai mengalihkan fokus ke sektor lain di tengah tingginya valuasi saham teknologi yang terus tertekan.

Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter juga berubah. Berdasarkan data LSEG, para pedagang kini semakin bertaruh bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya pada Desember. Dua pekan lalu, pasar hanya memperkirakan satu kenaikan sebesar 25 basis poin. Perubahan ini terjadi seiring kekhawatiran akan sikap hawkish di bawah kepemimpinan Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh.

Data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) indikator inflasi favorit The Fed dijadwalkan dirilis pada Kamis dan akan menjadi sorotan utama pelaku pasar.

Para investor juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Senat AS pada Selasa lalu mendukung undang-undang yang bertujuan menghentikan aksi militer AS terhadap Iran. Namun, belum jelas bagaimana langkah ini akan memengaruhi konflik, mengingat pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini tengah menegosiasikan perjanjian damai dengan Iran.

Di bursa, jumlah saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik di NYSE dengan rasio 1,31 banding 1. Sebanyak 120 saham mencatat rekor tertinggi baru, sementara 187 saham menyentuh level terendah baru. Di Nasdaq, 2.181 saham naik dan 2.636 saham turun, dengan rasio penurunan 1,21 banding 1.

Indeks S&P 500 mencatat 12 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima rekor terendah baru. Sementara Indeks Komposit Nasdaq mencatat 132 rekor tertinggi baru dan 182 rekor terendah baru. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 24,1 miliar saham, lebih tinggi dari rata-rata 20 hari terakhir yang sebesar 22,53 miliar saham.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar