Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) berencana melibatkan pemerintah daerah dalam pengembangan industri gim nasional melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2025–2045. Langkah ini diharapkan membuka peluang lahirnya gim-gim bertema budaya dan tradisi khas masing-masing daerah.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai potensi tersebut dapat menjadi sumber ekonomi kreatif baru. Menurutnya, hulu dari sebuah ide kreatif berasal dari budaya, sementara hilirnya ditopang oleh teknologi dan kreativitas. Dengan demikian, ide para pegiat gim lokal tidak kalah dengan pegiat asing.
“Jadi betul, sebetulnya bahwa kalau untuk ide sebetulnya itu kita tidak kalah. Karena semua ide kreatif itu, kalau hulunya budaya, hilirnya dengan sentuhan inovasi teknologi dan kreatif, dari situlah ekonomi kreatif itu muncul,” ujar Riefky dalam peringatan Hari Game Indonesia di Garuda Spark FX Sudirman, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Ia mencontohkan, banyak ide gim yang bisa dikembangkan dari latar cerita, budaya, dan tradisi lokal, seperti cerita rakyat, sejarah, kuliner, hingga fashion. “Kalau budaya Nusantara, jangankan Nusantara, kita ngomong satu kabupaten dari cerita, cerita kerajaannya ada sendiri, cerita legendanya ada sendiri, cerita hantunya pun setiap kabupaten beda-beda. Belum makanan, belum kuliner, fashion, dan seterusnya. Itu menjadi modal sebetulnya untuk ide-ide games digital maupun board games itu tidak akan habis,” tuturnya.
Meski demikian, pengembangan tersebut memerlukan dukungan inkubasi dan akselerasi yang masif. Apalagi, industri gim nasional tumbuh 18,22 persen dibandingkan tahun lalu, dan pertumbuhan itu berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja.
Riefky mengungkapkan, saat ini inkubasi bagi pegiat gim sudah berjalan di berbagai lini, mulai dari kampus hingga program CSR perusahaan swasta nasional dan internasional. “Nah, tadi beliau sudah menyampaikan bahwa kalau ide, itu insya Allah tidak akan habis lah. Tetapi juga kalau inkubasi sebetulnya sekarang sudah berjalan. Kampus melakukan inkubasi, CSR dari perusahaan-perusahaan swasta nasional dan internasional juga melakukan inkubasi, kemudian juga Kementerian juga melakukan inkubasi,” jelasnya.
Selain inkubasi, akselerasi juga terus digencarkan, terutama bagi pegiat yang sudah berdaya namun belum mandiri. Hal ini penting agar mereka tidak turun kelas kembali ke tahap rintisan atau bahkan gulung tikar. “Nah, yang berdaya yang sudah berdarah-darah bertahun-tahun, itu sebetulnya yang perlu sentuhan dengan program akselerasi dengan cara mengkurasi. Dengan siapa kurasinya? Kementerian, pemerintah tidak bisa sok pintar. Kita kurasi dengan asosiasinya, kita kurasi mana yang berdaya yang kita mau dorong naik kelas ke kelas mandiri. Angkat mereka dari tingkat kabupaten/kota ke level nasional, local hero ke nasional, national champion ke global,” paparnya.
Ke depannya, hasil inkubasi dan akselerasi itu diharapkan didukung oleh kebijakan pemerintah dan berbagai lembaga yang mewadahi serta mendorong percepatan industri gim nasional. “Tinggal bagaimana kehadiran pemerintah ada tiga: bisa dia berupa kebijakan, bisa dia berupa anggaran, bisa juga kehadiran termasuk endorsement. Nah dari tiga itu di mana nanti tergantung pas cocoknya tuh yang mana, begitu. Dan saya rasa tinggal diterapkan lagi saja, begitu,” pungkas Riefky.
Artikel Terkait
Menparekraf Dorong Gim Lokal Tembus Pasar Global
Menekraf: Industri Kecantikan Kini Jadi Pilar Ekonomi Kreatif