Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan komitmen pemerintah untuk membawa industri gim nasional ke panggung internasional. Tidak hanya dari sisi produksi dan talenta, tetapi juga perluasan akses pasar serta promosi bagi pengembang lokal.
"Jadi memang tidak hanya memperkuat dari talenta, tidak hanya inkubasi dalam pembuatan game, tetapi juga akses pasar hingga promosinya," ujar Riefky saat menghadiri acara Hari Game Indonesia (HARGAI) 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, FX Sudirman, Jakarta, Sabtu (8/8).
Upaya tersebut telah diwujudkan melalui berbagai langkah nyata. Salah satunya dengan membawa sekitar sepuluh pengembang gim Indonesia ke ajang Gamescom di Jerman pada tahun lalu. Selain itu, Kementerian Ekonomi Kreatif juga menghadirkan Games Corner di Terminal 2 dan Terminal 3 yang menampilkan sembilan gim lokal sejak pertengahan tahun lalu.
"Tahun lalu, kita juga bersama-sama mengkurasi dan membawa sekitar 10 games developer kita ke Gamescom di Jerman," kata Riefky. "Kementerian Ekraf juga untuk mendorong games lokal, kita juga membuat Games Corner di Terminal 2 dan Terminal 3 yang menampilkan ada sembilan games lokal sejak pertengahan tahun lalu hingga hari ini, dan kita berharap semakin banyak games-games lokal untuk ditampilkan," lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia (AGI) Shafiq Husein menilai tantangan industri gim nasional telah bergeser. Para pengembang tidak lagi kesulitan dalam menciptakan gim, melainkan bagaimana mempromosikan karya mereka hingga mampu menembus pasar global.
"Sekarang kita itu bukan lagi kesulitan membuat gim-nya, tapi kesulitan bagaimana kita mengembangkan apa yang sudah ada, membuat apa yang sudah ada ini menjadi untuk bisa layak dan bisa masuk ke pasar global," tutur Shafiq.
Ia menambahkan, akses pendanaan dan promosi menjadi kebutuhan utama para pengembang saat ini. "Dukungan-dukungan seperti akses pendanaan juga sangat kita butuhkan, akses promosi juga kita butuhkan," ujarnya.
Lebih lanjut, Shafiq menegaskan bahwa industri gim Indonesia tidak lagi membutuhkan dorongan untuk mendirikan studio baru. Fokus utama kini adalah keberlanjutan produk yang sudah ada. "Karena bukan lagi menciptakan atau me-encourage lagi orang-orang untuk bikin studio game, mereka sudah tertarik untuk bikin studio game, tapi bagaimana caranya mengembangkan yang masuk ke studio game ini dan bisa sustain ke depannya," katanya.
Artikel Terkait
Menekraf: Industri Kecantikan Kini Jadi Pilar Ekonomi Kreatif