Wall Street Beragam: S&P 500 dan Nasdaq Tertekan Saham Teknologi, Dow Jones Menguat

- Selasa, 23 Juni 2026 | 06:35 WIB
Wall Street Beragam: S&P 500 dan Nasdaq Tertekan Saham Teknologi, Dow Jones Menguat

Wall Street menutup perdagangan dengan hasil beragam pada Senin (22/6/2026) waktu setempat, di mana Indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah akibat tekanan dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, termasuk Alphabet. Di saat yang sama, investor juga mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang turut memengaruhi sentimen pasar.

Berdasarkan laporan Reuters, Dow Jones Industrial Average berhasil naik 148,01 poin atau 0,29 persen ke level 51.712,71. Namun, S&P 500 justru turun 27,79 poin atau 0,37 persen menjadi 7.472,79, sementara Nasdaq Composite anjlok 351,33 poin atau 1,32 persen ke posisi 26.166,60. Kinerja positif Dow Jones ditopang oleh sektor kesehatan dan industri yang menguat.

Salah satu faktor yang membebani Nasdaq adalah amblesnya saham SpaceX sebesar 16,4 persen, yang merupakan penurunan harian terbesar sepanjang sejarah perusahaan. Meski demikian, harga saham perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu masih diperdagangkan di atas harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar 135 dolar AS per saham. Pada hari yang sama, SpaceX meluncurkan penawaran utang pertamanya dan mengumumkan memiliki kas dan setara kas sekitar 100,8 miliar dolar AS per 19 Juni.

Sementara itu, optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menjadi motor reli Wall Street mulai diuji. Analis mencatat semakin banyak investor yang mempertanyakan besarnya belanja modal untuk ekspansi infrastruktur oleh perusahaan hyperscaler. Saham Alphabet turun lima persen, sedangkan Meta, Amazon, dan Microsoft masing-masing melemah antara 2,3 persen hingga 4,7 persen.

Ujian selanjutnya bagi reli pasar adalah laporan kinerja kuartalan Micron Technology yang dijadwalkan pada Rabu. Saham produsen chip memori tersebut telah melonjak hampir 300 persen sepanjang tahun ini. Di sisi lain, tujuh dari sebelas sektor utama S&P 500 ditutup menguat, dipimpin oleh sektor real estate dan energi, sementara sektor layanan komunikasi menjadi yang terlemah dengan penurunan 3,8 persen.

Dari pasar komoditas, harga minyak turun setelah Washington dan Teheran menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari. Pejabat AS dan Iran disebut membuat “kemajuan besar” dalam putaran pertama pembicaraan di Swiss yang berakhir lebih awal pada Senin, menurut mediator, meskipun ketegangan masih berlangsung terkait Lebanon dan Selat Hormuz.

Fokus pasar pekan ini juga akan tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada Kamis. Indikator inflasi inti pilihan The Fed ini dinilai krusial. Jika hasilnya lebih tinggi dari perkiraan, hal itu dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, terutama setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menekankan pentingnya menekan inflasi pada pertemuan pekan lalu. Saat ini, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada September, berdasarkan data LSEG.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak dibanding yang naik dengan rasio 1,32 banding 1 di NYSE. Tercatat 345 saham mencapai level tertinggi baru dan 200 saham mencetak level terendah baru di bursa tersebut. Di Nasdaq, sebanyak 2.078 saham naik dan 2.773 saham turun, dengan rasio saham turun terhadap naik sebesar 1,33 banding 1.

Adapun S&P 500 mencatat 29 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 33 level terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 144 level tertinggi baru dan 186 level terendah baru. Volume perdagangan di bursa AS mencapai 22,97 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 22,12 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar