Ketegangan Selat Hormuz Kembali Memanas, Pasar Tunggu Data Inflasi AS dan Keputusan MSCI untuk Indonesia

- Senin, 22 Juni 2026 | 06:30 WIB
Ketegangan Selat Hormuz Kembali Memanas, Pasar Tunggu Data Inflasi AS dan Keputusan MSCI untuk Indonesia

Sejumlah agenda ekonomi global dan domestik menjadi sorotan investor pada pekan ini, dengan salah satu isu paling krusial adalah ketegangan di Selat Hormuz yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Eskalasi hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas hanya beberapa hari setelah kedua negara sepakat untuk menghentikan konflik secara sementara.

Komando militer gabungan Iran menyatakan bahwa penutupan selat strategis itu merupakan respons terhadap operasi militer Israel yang masih berlangsung di Lebanon. Pihak Teheran juga menuding Washington tidak menunjukkan itikad baik dan gagal memenuhi komitmen dalam kerangka gencatan senjata. Media pemerintah Iran bahkan mengabarkan bahwa langkah-langkah lanjutan telah disiapkan jika agresi terus berlanjut. Namun, militer AS membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup serta lalu lintas pelayaran internasional tetap berjalan normal.

Sementara itu, dari Amerika Serikat, perhatian pasar pekan ini akan tertuju pada rilis data pendapatan dan pengeluaran pribadi bulan Mei, termasuk indeks harga PCE yang menjadi indikator inflasi favorit Federal Reserve. Pengeluaran pribadi diperkirakan naik 0,6 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,5 persen pada April. Adapun pendapatan pribadi diproyeksikan meningkat 0,4 persen setelah tidak mengalami perubahan pada bulan sebelumnya.

Dari sisi inflasi, PCE inti diperkirakan naik 0,3 persen secara bulanan, meningkat dari 0,2 persen pada April. Angka ini kembali menyoroti tekanan harga yang masih mendasar di perekonomian AS. Perlu dicatat, Federal Reserve telah menaikkan proyeksi inflasi untuk 2026 dalam perkiraan ekonomi terbarunya. Survei PMI S&P Global pendahuluan untuk Juni juga akan menjadi perhatian, dengan aktivitas sektor jasa diperkirakan menguat sementara pertumbuhan manufaktur sedikit melambat. Investor juga akan mencermati hasil uji stres bank Federal Reserve yang menilai ketahanan bank-bank besar AS dalam skenario penurunan ekonomi parah dan tekanan pasar.

Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada pengumuman penting dari penyedia indeks global MSCI yang akan menentukan nasib pasar modal Indonesia. Hasil tinjauan MSCI 2026 Annual Market Classification Review dijadwalkan diumumkan pada 23 atau 24 Juni 2026 pukul 03.30 WIB. Sebelumnya, dalam MSCI 2026 Global Market Accessibility Review, lembaga tersebut kembali menyoroti persoalan transparansi di bursa saham Indonesia.

MSCI menurunkan penilaian Indonesia pada aspek information flow dari kategori “ ” menjadi “-”. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat mengganggu pembentukan harga yang wajar. Lembaga tersebut menilai bahwa kondisi ini berpotensi menyulitkan investor institusi global dalam mengidentifikasi tingkat free float yang sebenarnya serta mengandalkan harga pasar untuk kebutuhan penyusunan portofolio maupun replikasi indeks.

Sorotan MSCI terhadap transparansi pasar menambah ketegangan menjelang pengumuman klasifikasi pekan depan. Menurut laporan Reuters, jika Indonesia diturunkan statusnya dari emerging market menjadi frontier market, langkah itu berpotensi memicu arus keluar dana hingga 13 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp232,05 triliun dengan asumsi kurs Rp17.850 per dolar AS. Sejak MSCI pertama kali menyampaikan peringatan terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada Januari lalu, regulator dan otoritas pasar telah meluncurkan sejumlah langkah perbaikan, salah satunya peningkatan ketentuan minimum free float emiten menjadi 15 persen.

Selain isu transparansi, MSCI masih mencatat sejumlah hambatan lain bagi investor asing. Di antaranya adalah keterbatasan informasi emiten dalam bahasa Inggris, mekanisme pasar valuta asing offshore yang belum efisien, serta sejumlah pembatasan dalam fasilitas stock lending, transfer saham secara in-kind, dan transaksi short selling. Seluruh faktor ini menjadi catatan penting yang akan menentukan arah kebijakan pasar modal Indonesia ke depan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar