Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Senin lalu, terdorong oleh meredanya ketegangan geopolitik global setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai sementara. Sentimen positif ini memicu kembalinya investor ke aset berisiko, sekaligus mengangkat nilai tukar rupiah dan menekan harga minyak dunia. IHSG ditutup menguat 4,12 persen ke level 6.254,97, bahkan sempat menyentuh angka 6.345,8 sepanjang sesi perdagangan.
Meski indeks berhasil rebound, data menunjukkan investor asing masih membukukan jual bersih senilai Rp107,13 miliar di pasar reguler pada hari yang sama. Dalam sepekan terakhir, arus modal keluar asing mencapai Rp5,60 triliun, dan dalam sebulan nilainya menembus Rp27,78 triliun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kepercayaan investor global terhadap pasar domestik belum sepenuhnya pulih.
Menurut riset Phintraco Sekuritas, kesepakatan damai antara AS dan Iran serta potensi dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi katalis utama di balik penguatan pasar saham domestik. Optimisme tersebut turut menekan harga minyak yang terkoreksi lebih dari empat persen pada Senin dan kembali melemah sekitar lima persen pada keesokan harinya. Harga minyak mentah WTI turun ke kisaran 76,05 dolar AS per barel, sementara Brent berada di sekitar 78,96 dolar AS per barel. Penurunan harga energi dinilai menjadi angin segar karena dapat meredakan tekanan inflasi dan mengurangi risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
“Rupiah ditutup menguat 0,85 persen di level Rp17.709 per dolar AS. Sektor basic materials membukukan kenaikan terbesar sebesar 7,26 persen,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Di sisi lain, sejumlah analis menilai investor masih membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk memastikan keberlanjutan pemulihan pasar. Analis iFAST Capital Kevin Khaw Khai Sheng mengatakan, kenaikan IHSG saat ini masih perlu dikonfirmasi oleh perbaikan sentimen yang lebih permanen. Menurut Kevin, investor masih mempertimbangkan daya tarik obligasi pemerintah berimbal hasil tinggi serta perkembangan nilai tukar rupiah.
Ia menyebut, pandangan terhadap pasar saham Indonesia baru akan berubah lebih positif apabila dolar AS melemah secara konsisten di bawah Rp18.000 per dolar AS, imbal hasil obligasi turun, dan aliran dana asing kembali masuk. Hingga kondisi tersebut terpenuhi, setiap penguatan pasar kemungkinan masih akan dipandang sebagai peluang taktis jangka pendek, bukan sebagai awal dari tren kenaikan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Head of Research Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim menilai pemulihan pasar saham dan rupiah membutuhkan dukungan dari perbaikan struktural, bukan hanya sentimen jangka pendek. Ia menjelaskan, investor masih membutuhkan bukti adanya perbaikan dalam pengambilan kebijakan, seperti arah kebijakan yang lebih jelas, konsistensi kelembagaan yang lebih kuat, serta iklim usaha yang lebih stabil dan dapat diprediksi.
“Hal-hal tersebut penting untuk memulihkan kepercayaan dan membangun kembali rasa aman bagi investor asing maupun pelaku usaha domestik,” ujar Jeffrosenberg.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas melihat IHSG mulai menunjukkan sinyal perbaikan setelah ditutup di atas MA20 dan MACD melanjutkan pembentukan histogram positif. Namun, indikator Stochastic RSI berpotensi membentuk death cross di area overbought. Perusahaan sekuritas itu memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 6.150 hingga 6.400 pada perdagangan Rabu. Kinerja pasar selanjutnya akan bergantung pada keberlanjutan sentimen global dan keyakinan investor terhadap pemulihan ekonomi domestik.
Perhatian investor domestik pekan ini juga akan tertuju pada hasil Global Market Accessibility Review MSCI dan rebalancing indeks FTSE yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni. Kedua agenda tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan saham-saham yang masuk dalam konstituen indeks global, terutama terkait aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. MSCI juga akan mengumumkan Annual Market Classification Review pada 24 Juni, yang menjadi perhatian utama pelaku pasar karena akan menentukan apakah pembekuan indeks terhadap Indonesia akan dicabut serta apakah status Indonesia sebagai Emerging Market akan dipertahankan atau diturunkan menjadi Frontier Market.
Selain katalis dari indeks global, pelaku pasar juga akan mencermati keputusan sejumlah bank sentral utama dunia. Bank of Japan dan Reserve Bank of Australia dijadwalkan menetapkan kebijakan suku bunga pada 16 Juni, disusul Federal Reserve pada 17 Juni dan Bank of England pada 18 Juni. Dari dalam negeri, investor menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 Juni. Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Artikel Terkait
MBMA Usulkan James Nicholas sebagai CFO dan Ashutosh Srivastava Fausimm sebagai Direktur Operasional di RUPST Juni 2026
BEI Cabut Suspensi Saham Multi Medika, Masuk Papan Pemantauan Khusus
Harga Minyak Anjlok 5 Persen ke Level Terendah Tiga Bulan Imbas Kesepakatan Buka Kembali Selat Hormuz
KAI Matangkan Peta Jalan Transisi Biodiesel dari B0 ke B50 untuk Tekan Emisi