Wall Street mencatatkan rekor baru pada perdagangan Rabu (6/5/2026) waktu setempat, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup pada level tertinggi sepanjang masa. Indeks S&P 500 melonjak 1,46 persen dan mengakhiri sesi di posisi 7.365,09, sementara Nasdaq menguat lebih tajam, yakni 2,03 persen, menjadi 25.838,94 poin. Dow Jones Industrial Average juga ikut menanjak 1,24 persen ke level 49.910,59 poin.
Lonjakan ini didorong oleh dua faktor utama. Pertama, munculnya tanda-tanda penyelesaian konflik di Timur Tengah. Kedua, pendapatan kuat dari Advanced Micro Devices (AMD) yang memicu reli pada saham produsen chip dan perusahaan terkait kecerdasan buatan (AI) lainnya. Saham AMD sendiri melonjak hampir 19 persen ke level tertinggi sepanjang masa setelah perusahaan memperkirakan pendapatan kuartalan di atas ekspektasi, didorong permintaan kuat untuk chip pusat data.
Saham pesaing AMD, Intel, juga naik 4,5 persen. Indeks chip PHLX menguat 4,5 persen, sehingga total kenaikannya sepanjang 2026 mencapai 62 persen. Sementara itu, saham global ikut melonjak dan harga minyak justru merosot tajam. Harga minyak mentah Brent turun sekitar 8 persen menjadi 101 dolar AS per barel, membantu meredakan kekhawatiran tentang tekanan inflasi.
Penurunan harga minyak ini tidak terlepas dari perkembangan diplomatik. Iran dikabarkan sedang meninjau proposal baru dari Amerika Serikat, dan sumber menyebutkan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan satu halaman untuk mengakhiri perang. Isu-isu rumit seperti program nuklir Iran ditunda untuk dibahas kemudian.
Dalam beberapa pekan terakhir, Wall Street terus melonjak karena investor mulai mengalihkan fokus dari konflik Timur Tengah ke musim pendapatan kuartal pertama yang kuat, terutama dari perusahaan-perusahaan terkait AI. Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 berada di jalur menuju pertumbuhan laba terkuat dalam lebih dari empat tahun. Data dari LSEG I/B/E/S menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja hingga 1 Mei berhasil melampaui perkiraan laba analis.
“Ekonomi berjalan dengan baik. Tidak ada tanda-tanda bahaya nyata yang menunjukkan akan terjadi penurunan. Dengan latar belakang tersebut, Anda harus memiliki saham,” ujar Manajer Portofolio Senior di Globalt Investments, Thomas Martin.
Sejak awal tahun, S&P 500 telah naik hampir 8 persen, sementara Nasdaq mencatat kenaikan 11 persen. Dalam sesi perdagangan tersebut, S&P 500 mencatat 46 rekor tertinggi baru dan 21 rekor terendah baru, sedangkan Nasdaq mencatat 186 rekor tertinggi baru dan 92 rekor terendah baru.
Artikel Terkait
RUPSLB PT Raharja Energi Cepu Ditunda karena Tunggu Klarifikasi OJK
Pendapatan Bluebird Kuartal I 2026 Tembus Rp1,45 Triliun, Naik 11,6 Persen
S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Baru, Didorong Saham AMD dan Meredanya Ketegangan Timur Tengah
Wall Street Cetak Rekor: S&P 500 dan Nasdaq Ditutup di Level Tertinggi Sepanjang Masa