IDXChannel – Wall Street punya cerita menarik di akhir pekan kemarin. Indeks-indeks utama Amerika Serikat ditutup dengan arah yang saling berlawanan. Tapi yang bikin sorotan, S&P 500 dan Nasdaq berhasil menembus rekor tertinggi baru. Gak main-main, kenaikan ini ditopang oleh dua hal: harapan damai antara AS dan Iran, plus saham teknologi yang lagi panas-panasnya, terutama sektor semikonduktor.
Nah, soal perdamaian ini, kabarnya Pakistan ikut jadi mediator. Mereka bilang Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, bakal terbang ke Islamabad. Tujuannya? Membahas usulan untuk memulai lagi perundingan damai. Di sisi lain, Gedung Putih juga angkat bicara. Kata mereka, utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, bareng Jared Kushner, juga bakal ke Islamabad buat lanjutin pembicaraan.
Sentimen ini udah bikin pasar agak semringah dalam beberapa pekan terakhir. Tapi ya, euforianya sempat tertahan. Soalnya, masih ada ketidakpastian soal konflik Iran yang belum jelas ujungnya. Belum lagi penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung bikin banyak pihak was-was.
“Situasi Iran masih terasa rapuh. Banyak dinamika yang berubah-ubah,” ujar Jed Ellerbroek, Portfolio Manager Argent Capital Management.
“Tapi untuk saat ini, ada sedikit harapan,” tambahnya, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (25/4/2026).
Balik ke bursa, Dow Jones malah terpeleset. Indeks ini turun 79,61 poin atau 0,16 persen, berakhir di 49.230,71. Sementara S&P 500 malah melesat 56,68 poin (0,80 persen) ke 7.165,08. Nasdaq? Lebih gila lagi melonjak 398,09 poin atau 1,63 persen ke 24.836,60. Kalau dilihat secara mingguan, S&P 500 naik 0,55 persen, Nasdaq menguat 1,5 persen. Tapi Dow Jones justru melemah 0,44 persen. Ya, namanya juga pasar, ada yang senang ada yang tidak.
Sektor semikonduktor jadi bintang utama. Indeks Philadelphia SE Semiconductor naik 4,32 persen dan catat reli 18 hari berturut-turut. Gila, kan? Saham Intel jadi yang paling moncer melonjak 23,65 persen ke USD82,57. Penyebabnya, proyeksi pendapatan kuartal II mereka ternyata jauh di atas dugaan pasar.
Gak cuma Intel, saham chip lain kayak AMD dan Arm juga ikut-ikutan naik sekitar 14 persen. Nvidia? Mereka juga ikut pesta, naik 4,32 persen dan hampir mendekati kapitalisasi pasar USD5 triliun lagi.
Ellerbroek punya pandangan sendiri soal ini. “Keraguan terhadap imbal hasil investasi AI dari perusahaan besar mulai hilang dengan cepat,” katanya.
“Ini yang mendorong saham chip dan sektor industri terkait,” sambungnya.
Ngomong-ngomong, perhatian pelaku pasar sekarang mulai bergeser. Pekan depan, semua mata bakal tertuju ke rapat Federal Reserve. Soalnya, ini bisa jadi petunjuk arah suku bunga ke depan. Ada juga kabar menarik: Departemen Kehakiman AS katanya udah menghentikan penyelidikan terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell. Langkah ini membuka jalan buat proses pergantian kepemimpinan bank sentral.
Di sisi lain, ekspektasi pemangkasan suku bunga makin menguat. Pasar sekarang memperkirakan peluang 39 persen buat penurunan setidaknya 25 basis poin pada Desember 2026. Belum lagi, kinerja laba perusahaan yang solid proyeksi pertumbuhan laba kuartal I mencapai 16,1 persen. Jadi, meskipun ada ketidakpastian, optimisme masih tetap terjaga.
Artikel Terkait
MNC Finance Gandeng BuPeri Foundation Optimalkan Pengelolaan Sampah dari Lingkungan Karyawan
IHSG Anjlok 3,4%, Saham BBCA Terjun ke Level Pandemi akibat Aksi Jual Asing Rp2 Triliun
BEI Rompak Konstituen LQ45 dan IDX80, BREN dan DSSA Tersingkir karena Aturan Baru Kepemilikan Saham
Saham Teknologi dan Harapan Damai Iran Dorong S&P 500 serta Nasdaq ke Rekor Tertinggi Baru