Wall Street Bergerak Mixed di Tengah Harapan Baru Negosiasi AS-Iran, Intel Melonjak 24,5 Persen

- Jumat, 24 April 2026 | 22:45 WIB
Wall Street Bergerak Mixed di Tengah Harapan Baru Negosiasi AS-Iran, Intel Melonjak 24,5 Persen

Wall Street memulai perdagangan Jumat (24/4/2026) dengan nada yang agak campur aduk. Ada secercah harapan baru soal negosiasi antara AS dan Iran kabar yang langsung mempengaruhi pergerakan pasar pagi itu. Di sisi lain, saham Intel yang melesat jadi semacam penopang tambahan.

Nah, soal negosiasi ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, kabarnya bakal tiba di Islamabad malam nanti. Hanya dengan tim kecil, katanya. Dan menurut sumber dari Pakistan, pembicaraan damai dengan AS kemungkinan besar bakal dilanjutkan lagi. Jadi ya, ada sedikit angin segar di tengah ketegangan yang masih terasa.

Kalau kita lihat angka-angkanya, Dow Jones Industrial Average justru terpeleset 172,94 poin turun 0,35 persen ke 49.137,38. Tapi S&P 500 malah naik 14,58 poin, atau 0,21 persen, ke 7.122,98. Nasdaq Composite juga ikut menghijau, naik 153,90 poin (0,63 persen) ke 24.592,41. Jadi ya, nggak semuanya merah.

Ini semacam napas lega setelah seminggu penuh kebuntuan. AS masih ngotot dengan blokade laut di pelabuhan Iran. Sementara Iran, mereka malah menyita kapal-kapal yang nekat melintas di Selat Hormuz. Situasi yang masih panas-panas dingin, gitu.

Mark Malek, chief investment officer di Siebert Financial, bilang begini:

“Kita sudah melewati puncak ketidakpastian. Trader yang paling berani masuk lebih dulu, dan sekarang trader yang terdorong FOMO ikut masuk.”

Laporan keuangan dari beberapa perusahaan juga lumayan solid. Tapi ya, namanya juga baru sebulan kena dampak perang, jadi banyak investor yang agak ragu. Seberapa bisa diandalkan sih hasil-hasil ini buat nebak masa depan? Masih tanda tanya besar.

Yang bikin pusing paling utama ya harga minyak. Kontrak berjangka Brent masih melambung sekitar 44 persen di atas level sebelum perang. Alasannya? Gangguan di jalur pengiriman Selat Hormuz yang memang krusial banget.

Meski begitu, nggak sedikit yang justru melihat penurunan ini sebagai peluang. Katanya, valuasi sekarang jadi lebih menarik. Jadi ya, ada yang beli, ada yang wait and see.

S&P 500 dan Nasdaq Composite, dalam beberapa hari terakhir, malah mencetak rekor tertinggi. Ini didorong keyakinan bahwa fundamental ekonomi masih kuat perang atau nggak perang.

Manish Kabra, strategist ekuitas AS di Societe Generale, punya pandangan sendiri:

“Saham AS dipandang sebagai pihak yang diuntungkan, relatif lebih tahan terhadap guncangan harga minyak dibandingkan negara lain. Besarnya pergerakan harga minyak kini juga jauh lebih kecil, sehingga menenangkan investor saham.”

Ngomongin saham Intel, wah, ini luar biasa. Sahamnya melonjak 24,5 persen sampai rekor tertinggi. Soalnya, mereka memproyeksikan pendapatan kuartal kedua di atas perkiraan. Pesaingnya, AMD, juga ikut-ikutan naik 12,5 persen. Indeks semikonduktor Philadelphia naik 3,5 persen, dan lagi-lagi ini hari ke-18 berturut-turut mereka hijau.

Indeks teknologi informasi naik 1,2 persen, jadi pendorong terbesar indeks acuan. Tapi sektor kesehatan malah turun 1,4 persen, jadi agak nahan laju kenaikan secara keseluruhan.

(NIA DEVIYANA)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar