Tapi rupanya, ada pergeseran strategi. Sejak akhir 2025, Andry mengaku mulai mendiversifikasi portofolio. Dia mulai masuk ke saham-saham blue chip yang rajin bagi dividen, meski tetap menyisakan modal untuk berburu capital gain di saham konglo.
"Jadi sekarang saya sudah mulai main aman," ujarnya dalam podcast The Fundamentals IDX Channel beberapa waktu lalu.
"Sebagian saya taruh di blue chip buat anchor, jangkarnya. Jadi kalau ada ombak, kapal saya enggak bergerak karena kapal saya sudah ada jangkarnya di blue chip. Buat cari uang yang banyaknya, saya carinya di saham-saham konglo ini."
Dalam beberapa kesempatan, Andry memang mengaku memegang saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Dia pernah menunjukkan bukti menerima dividen interim Rp3 miliar dari kepemilikan 30 juta saham BMRI, yang nilainya sekitar Rp150 miliar.
Strateginya terbilang fleksibel. Jika saham blue chip terlihat murah, dia akan beli. Begitu pula saat saham konglo tertekan, dia tak segan untuk mengakumulasi dengan agresif. Intinya, dia berusaha menyesuaikan dengan kondisi pasar yang selalu berubah.
Artikel Terkait
Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Unicharm Indonesia Catat Kerugian Rp1 Triliun di 2025, Terburuk Sepanjang Sejarah
Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Imbas Penutupan Selat Hormuz
BEI dan KSEI Mulai Publikasi Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen