Tak kalah penting, bahan bakar mineral berkontribusi USD 28,01 miliar. Komoditas besi dan baja juga punya andil besar dengan surplus USD 18,44 miliar.
Nah, khusus dengan pasar AS, mesin dan perlengkapan elektronik jadi penopang utama surplus nonmigas kita. Selain itu, ekspor pakaian rajutan dan alas kaki juga punya peran yang sangat signifikan dalam menambah angka keuntungan dagang ke sana.
Bagaimana dengan India? Polanya agak berbeda. Surplus terbesar justru datang dari bahan bakar mineral dan lemak/minyak nabati-hewani.
“Serta juga di India yang menyumbang surplus tiga besar yaitu dari besi dan baja,” tambah Ateng.
Sementara itu, hubungan dagang dengan Filipina lebih bertumpu pada ekspor kendaraan beserta bagian-bagiannya, diikuti oleh bahan bakar mineral dan tentu saja, lemak serta minyak hewani. Jadi, meski sama-sama menyumbang surplus, komposisi komoditas andalannya berbeda-beda di tiap negara.
Artikel Terkait
OJK Siap Buka Data Kepemilikan Saham di Atas 1% Usai Pertemuan dengan MSCI
OJK Siap Buka Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen Usai Pertemuan dengan MSCI
Paradise Indonesia Pacu Pendapatan Berulang, Bidik 75% dari Total Pemasukan pada 2026
APBN Siap Danai Gerakan Gentengisasi Prabowo untuk Perbaiki Pemandangan Indonesia