Di sisi lain, dari seberang lautan, pemerintah Amerika Serikat kembali mengalami penutupan atau shutdown. Ini terjadi Sabtu (31/1) waktu setempat, menyusul mandeknya persetujuan anggaran untuk tahun 2026 di Kongres.
Namun begitu, situasi kali ini diprediksi cuma sementara. Parlemen AS rencananya akan kembali bersidang pada Senin (2/2) setelah jeda sepekan. Kabarnya, Presiden Donald Trump dari Partai Republik mendukung penuh paket anggaran yang sedang digodok itu.
Menurut analisis Bloomberg, dampak shutdown kali ini relatif minimal bagi masyarakat. Banyak pegawai federal yang masuk kategori 'esensial' seperti personel militer dan pengatur lalu lintas udara tetap bekerja seperti biasa di akhir pekan.
Ini adalah shutdown kedua di era kepemimpinan Trump. Sebelumnya, pada periode lalu, pemerintah tutup sampai 43 hari. Waktu itu efeknya lumayan parah: bantuan pangan terhenti, ribuan penerbangan batal, dan gaji pegawai pemerintah telat berbulan-bulan.
Nah, kenapa sekarang lebih ringan? Ternyata, beberapa lembaga kunci sudah dapat anggaran hingga akhir tahun fiskal, September nanti. Ambil contoh Departemen Pertanian. Karena dananya sudah ada, program bantuan pangan atau food stamps tidak akan terganggu. Layanan di taman nasional, untuk veteran, dan operasional Departemen Kehakiman juga tetap berjalan.
Tapi bukan berarti semua aman. Beberapa departemen besar tetap harus ikut prosedur penutupan sementara. Mereka yang terdampak antara lain Keuangan, Pertahanan, Keamanan Dalam Negeri, Transportasi, Kesehatan, serta Ketenagakerjaan. Jadi, meski skalanya lebih terbatas, goncangan tetap ada.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak