Lembaga pemeringkat Pefindo baru saja memberikan peringkat idA dengan prospek stabil untuk PT Darma Henwa Tbk. Sahamnya di bursa dikenal dengan kode DEWA. Kabar ini keluar pada Senin, 26 Januari 2026.
Menurut analis Pefindo, posisi DEWA dinilai strategis. Visibilitas pendapatannya juga kuat, tak lepas dari hubungan erat dengan sejumlah perusahaan besar. Namun begitu, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai.
"Peringkat baru ini dibatasi oleh struktur permodalan yang moderat seiring dengan fase ekspansi perusahaan, serta paparan terhadap fluktuasi harga komoditas dan tingkat persaingan yang ketat di industri,"
tulis Pefindo dalam pernyataannya.
Jadi, prospek stabil itu bukan tanpa syarat. Peringkat bisa saja naik. Syaratnya, DEWA harus mampu melampaui proyeksi pendapatan dan EBITDA secara signifikan. Arus kas yang kuat dan peningkatan margin laba secara berkelanjutan juga jadi kunci untuk memperkuat profil keuangannya.
Di sisi lain, ancaman penurunan peringkat juga mengintai. Ini bisa terjadi jika pendapatan atau EBITDA perusahaan jatuh di bawah proyeksi. Penyebabnya bisa macam-macam, misalnya profitabilitas yang tergerus atau permintaan pasar yang melemah. Penambahan utang yang tak diimbangi kinerja bisnis juga jadi faktor risiko.
Kalau melihat sumber pendapatannya, DEWA memang punya pondasi yang cukup kokoh. Sebagian besar pendapatan perusahaan ini bersumber dari afiliasinya, yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Relasi ini jelas memberikan pijakan yang solid di industri pertambangan.
Siapa saja yang memegang sahamnya? Per akhir Desember 2025, kepemilikan saham DEWA cukup beragam. Ada PT Andhesti Tungkas Pratama (8,55%), CIMB Securities Limited (6,38%), dan PT CGS International Sekuritas Indonesia (5,53%). Kemudian Goldwave Capital Limited menguasai 9,38%, disusul Zurich Assets International Ltd sebesar 6,18%. Sisanya, sekitar 64%, dipegang oleh publik.
Bagaimana reaksi pasar? Tampaknya ada sedikit kelegaan. Pada perdagangan Jumat, 31 Januari 2026, saham DEWA berhasil rebound 2,86% ke level Rp540 per lembar. Meski begitu, dalam rentang sepekan, saham ini masih tercatat terkoreksi cukup dalam, yaitu 21,17%. Perjalanannya di pasar modal masih panjang.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020