Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi, Ketegangan AS-Iran Jadi Pemicu

- Jumat, 30 Januari 2026 | 07:00 WIB
Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi, Ketegangan AS-Iran Jadi Pemicu

Harga minyak dunia tiba-tiba meroket. Ini terjadi Kamis kemarin, dan sentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Pasar tampaknya mulai khawatir, terutama karena ketegangan antara AS dan Iran yang memanas lagi. Kalau situasi memburuk, pasokan global bisa terganggu.

Minyak mentah Brent naik cukup signifikan, USD 2,31 atau sekitar 3,4 persen, dan ditutup di angka USD 70,71 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga ikut naik USD 2,21, menguat 3,5 persen ke posisi USD 65,42. Data ini dikutip dari Reuters, Jumat (30/1).

Lonjakan ini nggak lepas dari peringatan keras Presiden AS Donald Trump ke Iran. Intinya, dia minta Iran segera capai kesepakatan nuklir atau bersiap menghadapi kemungkinan serangan militer. Nah, Iran kan salah satu produsen besar di OPEC. Jadi wajar saja kalau eskalasi konflik bikin investor cemas dan harga langsung terdongkrak.

Di tengah reli harga ini, ada kabar dari Bloomberg soal OPEC . Mereka diperkirakan bakal tetap patuh pada kebijakan jeda produksi yang udah disepakati untuk kuartal pertama tahun ini. Rencananya, delapan negara anggota yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia bakal ketemu virtual Minggu (1/2) buat tinjau kebijakan pasokan bulan Maret.

Beberapa delegasi yang diwawancarai bilang, sejauh ini aliansi itu masih berencana mengonfirmasi kebijakan yang ada.

Tapi mereka juga kasih isyarat. Kalau gangguan pasokan benar-benar signifikan, OPEC mungkin terpaksa ambil langkah penyesuaian. Jadi, ada ruang untuk manuver.

Secara historis, OPEC memang terkenal hati-hati. Mereka cenderung nunggu dulu sampai ada dampak nyata terhadap pasokan, baru bertindak. Sikap itu terlihat lagi sekarang, meski harga di London sempat sentuh USD 70,35 per barel level tertinggi sejak September lalu.

Kebijakan jeda produksi ini sendiri awalnya disepakati November lalu. Tujuannya sederhana: mengantisipasi perlambatan musiman permintaan bahan bakar. Sebelumnya, delapan negara anggota sempat agresif naikin produksi buat rebut kembali pangsa pasar dari produsen non-OPEC, terutama minyak serpih AS.

Meski begitu, prospek ke depan masih suram. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan potensi surplus pasokan, sementara permintaan global justru melambat. Di sisi lain, produksi dari negara-negara non-OPEC seperti AS, Brasil, Kanada, dan Guyana malah terus meningkat.

Beberapa lembaga keuangan besar, termasuk JPMorgan Chase & Co. dan Morgan Stanley, punya penilaian serupa. Menurut mereka, OPEC kemungkinan perlu memangkas produksi lebih dalam lagi. Tujuannya, biar harga nggak terjun bebas.

Tekanan ini makin terasa setelah harga minyak anjlok 18 persen sepanjang tahun lalu. Jatuhnya harga itu sempat memukul kondisi fiskal sejumlah negara anggota. Arab Saudi, contohnya, sampai terpaksa memangkas belanja proyek strategis dan cari-cari sumber pendanaan alternatif. Situasinya nggak mudah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar