Menteri Bappenas: Makan Bergizi Gratis Lebih Mendesak Ketimbang Buka Lapangan Kerja

- Kamis, 29 Januari 2026 | 14:12 WIB
Menteri Bappenas: Makan Bergizi Gratis Lebih Mendesak Ketimbang Buka Lapangan Kerja

Di tengah hiruk-pikuk wacana pembangunan ekonomi, Menteri PPN sekaligus Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, justru mengangkat isu yang lebih mendasar. Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini jauh lebih mendesak ketimbang sekadar menciptakan lapangan kerja baru. Pernyataan ini ia sampaikan dalam Prasasti Economic Forum 2026, Kamis lalu.

Latar belakangnya jelas. Rachmat melihat ketimpangan sosial yang kian melebar membuat tantangan pembangunan makin berat. Bagi masyarakat yang masih bergulat dengan kemiskinan, asupan gizi yang cukup adalah kebutuhan primer. Tanpa itu, ancaman stunting akan terus menghantui generasi mendatang.

"Kita lihat anak-anak kita stunting," ujarnya.

Ia melanjutkan, "Sekarang kita tidak hanya harus membangun infrastruktur fisik, jembatan, pelabuhan. Kita tidak hanya harus membangun jalan lebih panjang atau mendorong digitalisasi. Tapi kita sekarang harus membangun secara bersamaan, mencakup bidang sosial."

Pernyataannya tegas. Saat ditanya soal urgensi MBG, Rachmat tak ragu menyebut program itu lebih mendesak dari pembukaan lapangan kerja.

"Saya mengatakan MBG lebih mendesak, daripada lapangan kerja. MBG penting, lapangan kerja juga penting. Tapi MBG lebih mendesak," tegasnya.

Argumennya sederhana namun menusuk. Ia menyoroti masih banyaknya anak-anak, terutama di daerah terpencil, yang berhadapan dengan kelaparan dan gizi buruk. Dalam kondisi seperti itu, logika "beri kail, bukan ikan" dinilainya tak lagi relevan.

"Ada yang bilang tolong kasih kail, jangan ikan. Kalau dikasih kail, sudah keburu mati," kata Rachmat dengan nada prihatin.

"Cobalah lihat saudara-saudara kita di ujung pelosok desa kita. Mereka lapar."

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah mencatat kemajuan program ini. Sudah ada 58 juta penerima manfaat MBG dalam setahun lebih pelaksanaannya. Targetnya, angka itu akan melonjak jadi 82 juta orang pada akhir 2026 mendatang. Sebuah target ambisius yang, jika mengikuti logika Rachmat, memang tak bisa ditunda-tunda lagi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler