Barang Penumpang LRT Jabodebek Tertinggal Senilai Rp 797 Juta Sepanjang 2025

- Rabu, 07 Januari 2026 | 11:42 WIB
Barang Penumpang LRT Jabodebek Tertinggal Senilai Rp 797 Juta Sepanjang 2025

Sepanjang tahun 2025, ada fakta yang cukup mengejutkan dari operasional LRT Jabodebek. Tercatat, tak kurang dari 6.995 barang tertinggal oleh penumpang di stasiun maupun di dalam kereta. Kalau dihitung-hitung, nilai totalnya mencapai angka yang fantastis: sekitar Rp 797,7 juta.

Nah, dari ribuan barang yang ketinggalan itu, kabar baiknya sekitar 3.399 di antaranya sudah berhasil kembali ke tangan pemiliknya. Sedangkan sisanya? Masih ditangani oleh petugas untuk dicarikan solusi.

Radhitya Mardika, Manager Public Relations LRT Jabodebek, mengakui bahwa urusan barang bawaan ini memang jadi persoalan serius. Apalagi di tengah hiruk-pikuk dan padatnya penumpang setiap harinya.

“Barang bawaan adalah bagian dari aktivitas masyarakat kota. Ketika ditempatkan secara tepat, ruang perjalanan dapat tetap berfungsi optimal bagi semua pengguna,” jelas Radhitya dalam keterangannya, Rabu (7/1).

Menurutnya, mengelola barang di transportasi umum itu bukan cuma soal kenyamanan pribadi, tapi lebih ke kesadaran bersama. Ini ruang publik, jadi semua harus saling menjaga.

Untuk mengatasi hal ini, PT KAI selaku pengelola punya aturan yang cukup jelas. Ukuran bagasi dibatasi maksimal 100 x 40 x 30 sentimeter. Barang-barang berbahaya, jelas dilarang. Di dalam kereta, penumpang bisa memanfaatkan rak di atas kursi atau area penyimpanan khusus yang sudah disediakan. Tujuannya sederhana: agar lorong dan jalan tidak terhalang.

Lalu, bagaimana kalau barangnya kebanyakan atau penumpang mau pindah moda transportasi? Tenang, ada solusinya. KAI menyediakan layanan penitipan barang di Stasiun Halim. Tempat ini buka setiap hari dari jam 5 pagi sampai 11 malam. Barang bisa dititipkan maksimal 72 jam. Cukup fleksibel, kan?

Radhitya menambahkan, layanan seperti penitipan dan Lost and Found ini sebenarnya bagian dari upaya besar. Mereka ingin sistem transportasi publik benar-benar adaptif dengan dinamika kebutuhan warga kota.

“Transportasi publik tidak hanya berbicara tentang perpindahan dari satu titik ke titik lain, tetapi tentang bagaimana ruang mobilitas dikelola. Pengaturan bagasi, penitipan barang, hingga layanan barang temuan menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang aman, tertib, dan berkelanjutan,” pungkas Radhitya.

Jadi, intinya sederhana. Selain soal kecepatan dan ketepatan waktu, pengelolaan barang yang tertinggal ini menunjukkan sisi lain dari layanan transportasi modern. It's all about creating a better experience for everyone.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar