Reli saham logam ternyata belum selesai. Rabu (7/1/2026) ini, papan perdagangan Bursa Efek Indonesia kembali diwarnai hijau oleh emiten-emiten tambang, dari nikel sampai aluminium. Sentimennya positif, didorong prospek harga komoditas yang menjanjikan dan isu pengetatan pasokan global yang kian kencang.
Memimpin pesta kenaikan, saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) melonjak tajam 24,24 persen ke level Rp492. Cukup fantastis, karena dalam sepekan terakhir saja, saham ini sudah naik lebih dari 42 persen. Di belakangnya, raksasa nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tak kalah perkasa, menguat 13,78 persen ke Rp6.400 per lembar.
Deretan saham lain pun ikut meroket. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 12,46 persen, disusul PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang menguat 11,15 persen. PT Timah Tbk (TINS) juga merasakan imbasnya dengan kenaikan 8,08 persen. Tak hanya itu, saham-saham seperti MBMA, DKFT, dan NICE juga kompak naik di kisaran 7 persenan.
Meski merata, penguatan ini punya gradasi. Saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) misalnya, naik 6,49 persen. Sementara, kenaikan paling terbatas tercatat pada saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang 'hanya' terapresiasi 1,85 persen. Di sisi lain, emiten tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melesat 4,52 persen, dan pemain aluminium PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mendaki 3,88 persen.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Pengamat pasar modal Michael Yeoh punya penjelasan. Menurutnya, ada angin segar dari rencana pemerintah Indonesia sebagai produsen nikel utama dunia untuk memangkas pasokan. Tujuannya jelas: mendongkrak harga.
“Kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor nikel,” ujar Michael.
Ia menambahkan, harga nikel di LME sendiri sudah naik 12-13 persen sejak awal tahun. Kalau tren ini bertahan, dampaknya ke kinerja keuangan emiten bisa langsung terasa. Soal pilihan saham, Michael punya andalan.
“INCO, AMMN, MBMA, dan NCKL. Semua memiliki potensi pembalikan arah (reversal),” katanya pada Selasa (6/1/2026).
Namun begitu, ceritanya tak sepenuhnya mulus. Di tengah euforia pasar saham domestik, harga nikel di pasar global justru terkoreksi pada Rabu pagi. Setelah sempat melonjak hampir 10,5 persen mendekati USD 18.800 per ton sehari sebelumnya lonjakan intraday terbesar sejak akhir 2022 kontrak berjangka tiga bulan melemah di awal perdagangan.
Lonjakan sebelumnya itu tak lepas dari risiko gangguan produksi di Indonesia dan derasnya aliran dana ke pasar logam di China. Kabarnya, pemerintah Indonesia memang sedang serius. Mereka berencana menurunkan produksi tahun ini untuk menyeimbangkan pasar. Belum lagi rencana denda berat untuk perusahaan tambang yang melanggar izin kehutanan langkah yang berpotensi mengganggu produksi, bahkan memicu kebangkrutan.
Secara keseluruhan, pasar logam dasar memang mencatat awal tahun 2026 yang kuat. Indeks LMEX di London, yang melacak enam logam utama, melonjak ke level tertinggi sejak 2022. Selain nikel, tembaga sempat cetak rekor dan aluminium menguat ke level tertinggi dalam hampir dua tahun.
Tapi hari ini, aksi ambil untung mendominasi. Di London Metal Exchange, nikel turun 1,2 persen ke USD 18.295 per ton. Tembaga, aluminium, seng, dan timbal juga melemah.
“Penurunan harga nikel mencerminkan aksi ambil untung setelah lonjakan tajam, yang sebagian besar didorong oleh arus masuk modal finansial,” jelas Fan Jianyuan, analis Mysteel Global.
Fan mengingatkan, di balik gairah spekulatif itu, pasar nikel secara fundamental masih dalam kondisi surplus. Jadi, meski sentimennya panas, investor mungkin perlu sedikit lebih hati-hati.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Kadin Desak Prabowo Batalkan Rencana Impor 105.000 Mobil Pick-up dari India
Harga Emas Melonjak Didorong Perlambatan Ekonomi AS dan Ketidakpastian Kebijakan Trump
OJK Denda Influencer Saham Rp5,35 Miliar, Praktik Goreng Saham Berevolusi
BEI Bakal Evaluasi Kebijakan Full Call Auction di Kuartal II