Harga minyak dunia kembali tertekan pada Selasa lalu. Sentimen pasar tampak lesu, diwarnai oleh perhitungan rumit antara ancaman surplus pasokan global di tahun 2026 dan gejolak politik di Venezuela pasca-penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat.
Di pasar, angka-angka itu berbicara jelas. Kontrak berjangka Brent anjlok 1,7 persen, mengunci perdagangan di USD 60,70 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), terpangkas lebih dalam lagi turun 2 persen ke level USD 57,13.
Menurut Tamas Varga, analis di PVM Oil, dampak penangkapan Maduro terhadap pasar minyak global masih terlalu prematur untuk dinilai.
"Namun begitu," katanya seperti dikutip Reuters, "pasokan minyak pada 2026 dipastikan akan mencukupi, dengan atau tanpa tambahan dari Venezuela."
Laporan dari Morgan Stanley seolah mengamini kekhawatiran itu. Mereka mencatat, pertumbuhan permintaan minyak global tahun lalu kemungkinan cuma sekitar 900.000 barel per hari. Angka ini jauh di bawah tren historis yang biasanya menyentuh 1,2 juta barel.
Di sisi lain, pasokan justru melimpah. Mulai kuartal akhir 2024 hingga kuartal akhir 2025, negara-negara OPEC menambah pasokan sekitar 1,6 juta barel per hari. Sumber di luar OPEC bahkan lebih gencar, menambahkan sekitar 2,4 juta barel. Alhasil, kedua sumber ini memasuki 2026 dengan posisi yang sangat kuat.
Morgan Stanley memprediksi, kombinasi lemahnya permintaan dan membanjirnya pasokan ini bisa mendorong pasar ke kondisi surplus yang cukup signifikan mencapai 3 juta barel per hari di paruh pertama 2026.
Ekspektasi itu bukan tanpa dasar. Survei Reuters Desember lalu terhadap pelaku pasar sudah mengisyaratkan hal serupa: harga minyak diperkirakan masih akan tertekan sepanjang tahun ini.
Penasihat Ritterbusch and Associates menyatakan dengan lebih gamblang. Mereka melihat sinyal surplus yang kian nyata membuka peluang untuk penurunan harga lebih lanjut dalam waktu dekat.
Tekanan itu berpotensi bertambah berat setelah drama penangkapan Maduro. Banyak yang mempertanyakan, apakah langkah AS ini justru akan mempercepat pencabutan embargo minyak terhadap Venezuela? Jika iya, produksi minyak negara itu berpeluang bangkit kembali.
Arah kebijakan AS pun jadi bahan perdebatan hangat. Presiden Donald Trump bahkan menyebut perusahaan-perusahaan minyak AS siap berinvestasi untuk mendongkrak produksi dan ekspor Venezuela.
Menurut tiga sumber yang mengetahui rencana tersebut, para CEO perusahaan minyak AS diperkirakan akan mengunjungi Gedung Putih paling cepat Kamis ini. Agenda utamanya? Membahas peluang investasi di Venezuela.
Namun, membangkitkan industri minyak Venezuela bukan perkara mudah. Sektor ini sudah lama merana akibat minimnya investasi dan belitan sanksi. Produksinya tahun lalu rata-rata hanya 1,1 juta barel per hari jauh dari masa kejayaannya.
Janiv Shah dari Rystad Energy memperkirakan, dengan pendanaan terbatas, tambahan pasokan dari Venezuela dalam dua-tiga tahun ke depan mungkin cuma sekitar 300.000 barel per hari.
Sebagian pendanaan bisa ditanggung oleh perusahaan minyak negara, PDVSA. Tapi untuk mencapai target ambisius 3 juta barel per hari pada 2040, mereka mutlak butuh suntikan modal dari internasional.
Sementara itu, di dalam negeri AS sendiri, data stok minyak mentah mencatat penurunan 2,77 juta barel pekan lalu menurut laporan American Petroleum Institute. Tapi ini bukan cerita lengkapnya, karena stok bahan bakar justru naik.
Pandangan pasar kini tertuju pada data resmi pemerintah AS yang dijadwalkan rilis Rabu lalu. Menariknya, delapan analis yang disurvei Reuters justru memprediksi kenaikan sekitar 500.000 barel. Pada akhirnya, ketidakpastianlah yang menjadi satu-satunya kepastian di pasar minyak saat ini.
Artikel Terkait
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau