Pendapat serupa datang dari pengamat energi, Fabby Tumiwa. Sebagai Direktur Eksekutif IESR, dia menilai konflik ini kecil kemungkinannya bakal mendongkrak harga minyak dalam waktu dekat.
“Saya tidak melihat faktor Venezuela akan menaikkan harga minyak dalam jangka pendek,” kata Fabby, Minggu (4/1).
Alasannya, selain pasokan global saat ini surplus, kontribusi produksi Venezuela juga sudah sangat menciut. “Produksi minyak Venezuela hanya 1 persen dari total produksi minyak dunia,” tambahnya.
Lalu, bagaimana dengan aset Pertamina di sana? Ternyata, perusahaan pelat merah itu juga menyatakan operasinya di Venezuela belum terganggu. Lewat PT Pertamina Internasional EP (PIEP) yang memegang saham mayoritas di perusahaan Prancis, Maurel & Prom, mereka mengelola lapangan Urdaneta Oeste Field.
Manager Relations PIEP, Dhaneswari Retnowardhani, memberikan konfirmasi tertulis di hari yang sama.
“Sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela,” tulisnya.
Jadi, untuk sementara, semua pihak di Indonesia tampaknya bisa bernapas lega. Meski berita tentang serangan AS dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro memenuhi headlines, riaknya belum terasa di pasar energi dalam negeri. Semuanya masih berjalan biasa, setidaknya sampai pemberitahuan resmi berikutnya.
Artikel Terkait
Komisaris Utama TOBA Bacelius Ruru Mundur untuk Regenerasi
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025