Rasa kehilangan ternyata tak cuma dirasakan para pedagang. Slamet, warga Bintaro, mengeluh. Dia langganan beli sepatu di Taman Puring, bahkan kebiasaan itu diwariskan ke anak-anaknya. “Makanya kita nyesel banget ini habis kebakar,” keluhnya. “Kenapa enggak dibangun-bangun ya? Kita merasa kehilangan.”
Saat ditemui, Slamet sedang mencari sepatu untuk anaknya yang kuliah di Undip. Menurutnya, harga di Taman Puring jauh lebih bersahabat. “Kalau di toko harganya bisa Rp 600 ribu sampai 1 juta. Kalau di sini aman. Harga aman, barangnya bagus,” terangnya.
Di sisi lain, janji revitalisasi sebenarnya pernah disampaikan. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menyatakan akan segera memperbaiki pasar itu. Dia mengakui, ini sudah kebakaran ketiga kalinya.
“Kita akan tentunya tetap akan kita perbaiki, kita persiapkan,” kata Pramono di Waduk Pluit, akhir Juli lalu.
Alasannya, pasar rakyat seperti ini masih sangat dibutuhkan. Untuk ke depannya, dia berjanji akan menyiapkan pencegahan, salah satunya dengan mewajibkan APAR di setiap kios. Tapi bagi pedagang dan pembeli setia yang menunggu di pinggir Jalan Kyai Maja, janji itu masih terasa jauh. Yang ada di depan mata hanyalah lapak sederhana dan kenangan akan sebuah pasar yang pernah ramai.
Artikel Terkait
Komisaris Utama TOBA Bacelius Ruru Mundur untuk Regenerasi
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025