Belasan lapak berjejer di pinggir Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru. Lokasinya tak jauh dari Pasar Mayestik. Mereka ini pedagang yang biasa mangkal di Pasar Taman Puring, sebelum segalanya berubah jadi abu.
Kebakaran hebat melalap pasar itu pada 28 Juli lalu. Syukurlah, tak ada korban jiwa. Tapi, nasib 500-an kios di sana sungguh mengenaskan hangus total. Hingga kini, puing-puingnya masih berserakan, seolah membekukan momen nahas itu.
Pantauan di lokasi, Jumat pekan lalu, memperlihatkan situasi yang tak banyak bergerak. Reruntuhan dibiarkan begitu saja. Belum ada tanda-tanda pembangunan kembali, apalagi revitalisasi. Rasanya, waktu seperti berhenti di tempat.
Rendi, salah satu pedagang, mengaku mereka terpaksa mengais rezeki di tepi jalan sejak tragedi Juli. “Iya, dari Juli sampai sekarang ya begini,” ujarnya. Soal kabar revitalisasi, dia cuma mendengar desas-desus. “Ada yang bilang sih nanti habis Lebaran,” tambahnya, dengan nada tak terlalu yakin.
Nasib serupa dialami Amar. Dia kembali menjajakan sepatu di pinggir jalan, meski hati was-was. “Waktu kebakaran ludes semua,” kenangnya. Sudah empat bulan ini dia bertahan di sini, semata untuk menyambung hidup keluarga. “Buat nyari ini aja, buat makan,” ucap Amar.
Bagi Amar, Taman Puring bukan sekadar pasar. Tempat itu adalah ikon. “Ini kan ikon Jakarta Selatan dari dulu, sudah terkenal ke mancanegara,” jelasnya dengan semangat. Dia menyebut beragam barang yang dulu mudah ditemui: sepatu second, aksesoris, jam, hingga kacamata. Harapannya cuma satu: pemerintah menepati janji untuk membangunnya kembali.
Rasa kehilangan ternyata tak cuma dirasakan para pedagang. Slamet, warga Bintaro, mengeluh. Dia langganan beli sepatu di Taman Puring, bahkan kebiasaan itu diwariskan ke anak-anaknya. “Makanya kita nyesel banget ini habis kebakar,” keluhnya. “Kenapa enggak dibangun-bangun ya? Kita merasa kehilangan.”
Saat ditemui, Slamet sedang mencari sepatu untuk anaknya yang kuliah di Undip. Menurutnya, harga di Taman Puring jauh lebih bersahabat. “Kalau di toko harganya bisa Rp 600 ribu sampai 1 juta. Kalau di sini aman. Harga aman, barangnya bagus,” terangnya.
Di sisi lain, janji revitalisasi sebenarnya pernah disampaikan. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menyatakan akan segera memperbaiki pasar itu. Dia mengakui, ini sudah kebakaran ketiga kalinya.
“Kita akan tentunya tetap akan kita perbaiki, kita persiapkan,” kata Pramono di Waduk Pluit, akhir Juli lalu.
Alasannya, pasar rakyat seperti ini masih sangat dibutuhkan. Untuk ke depannya, dia berjanji akan menyiapkan pencegahan, salah satunya dengan mewajibkan APAR di setiap kios. Tapi bagi pedagang dan pembeli setia yang menunggu di pinggir Jalan Kyai Maja, janji itu masih terasa jauh. Yang ada di depan mata hanyalah lapak sederhana dan kenangan akan sebuah pasar yang pernah ramai.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau
Kebijakan Tarif AS yang Berubah-ubah dan Antisipasi Laporan Nvidia Warna Pasar Asia