Namun begitu, optimisme itu langsung meredup. Rusia menuding Ukraina berusaha menyerang kediaman Presiden Vladimir Putin insiden yang dikhawatirkan bakal menghambat proses perundingan yang sudah alot itu.
Menariknya, meski ada pelemahan hari ini, saham AS secara keseluruhan masih berada di jalur yang solid. Dengan hanya tersisa tiga sesi perdagangan lagi, pasar global berpeluang menutup tahun 2025 di dekat level tertinggi sepanjang masa. Kinerja ini cukup mencengangkan, mengingat tahun ini diwarnai gejolak perang tarif, kebijakan bank sentral yang ketat, dan ketegangan geopolitik yang makin panas.
"Ketika kita memulai tahun ini, kita melihat tarif diterapkan dan pertanyaannya adalah 'akankah pasar bertahan?'" ujar Haworth. "Jawabannya adalah ya."
Pergerakan di kawasan Asia-Pasifik beragam. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,32 persen, sementara Nikkei Jepang justru turun 0,44 persen. Yen Jepang menguat setelah risalah rapat BOJ dirilis, meski pasar tetap waspada akan potensi intervensi dari bank sentral tersebut.
Di pasar valas, indeks dolar nyaris stagnan di level 98,03. Euro sedikit melemah terhadap dolar, sementara dolar AS sendiri melemah 0,31 persen terhadap yen.
Aset kripto juga ikut beringsut turun. Bitcoin terkoreksi 0,42 persen ke level USD 87.177,85. Ethereum pun tak jauh beda, turun 0,21 persen ke posisi USD 2.928,82.
Artikel Terkait
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WIKA Pangkas Utang Rp3,87 Triliun Meski Rugi Bersih Membengkak
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168