Delta Djakarta Pacu Penjualan dengan Ekspansi ke Indonesia Timur

- Minggu, 28 Desember 2025 | 04:25 WIB
Delta Djakarta Pacu Penjualan dengan Ekspansi ke Indonesia Timur

Penjualan bir di Indonesia memang belum sepenuhnya bangkit pasca pandemi. Hal itu dirasakan betul oleh PT Delta Djakarta Tbk (DLTA). Webster A. Gonzales, Direktur Utamanya, mengakui angka penjualan perusahaan masih relatif datar dan belum kembali ke level sebelum Covid-19 melanda.

“Kami akan terus menjaga atau meningkatkan pangsa pasar kami dengan menambah jumlah distributor, mengadakan ekspansi yang signifikan ke daerah-daerah yang masih belum dimaksimalkan,” ujar Webster, Sabtu lalu.

Lalu, daerah mana yang jadi sasaran? Perhatian mereka kini tertuju ke Indonesia Timur. Kawasan seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan wilayah-wilayah turis lainnya dinilai punya potensi yang masih bisa digarap lebih dalam. Intinya, mereka mau memperkuat jaringan distribusi di sana sebagai strategi mendongkrak penjualan minuman beralkohol.

Jaringan yang sudah ada sebenarnya cukup luas. Saat ini, DLTA punya 52 distributor yang jangkauannya membentang dari Sumatera Utara sampai ke Papua. Mereka juga ekspor, meski skalanya tak besar ke Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Namun begitu, tantangan di dalam negeri tetap dominan. Webster menekankan, bisnis bir di Indonesia sangat bergantung pada regulasi. Aturan dari pusat hingga daerah punya pengaruh besar, nyaris mendikte segala hal mulai dari distribusi, konsumsi, sampai angka penjualan akhir.

“Faktor daya beli juga memengaruhi terutama untuk segmen-segmen menengah ke bawah di mana segmen itu masih berkontribusi cukup besar untuk pasar bir di Indonesia,” tambahnya.

Di sisi lain, dari sisi kinerja, laporan keuangan hingga kuartal III-2025 menunjukkan penjualan bersih DLTA mencapai Rp484,2 miliar. Angka itu hanya naik tipis, 0,3 persen, dibanding periode sama tahun sebelumnya yang Rp482,7 miliar.

Soal rencana pengeluaran, perusahaan menganggarkan belanja modal sekitar Rp63,9 miliar untuk tahun ini. Hingga saat ini, realisasinya baru sekitar 23 persen atau setara Rp20,3 miliar. Webster memperkirakan angka itu akan melonjak di akhir tahun.

“Diperkirakan sampai dengan akhir tahun akan mencapai realisasi 70-75 persen, terutama untuk operation improvement dan replacement perangkat mesin pabrik dan IT related,” jelasnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar