Derasnya Modal Asing Rp14 Triliun Warnai Awal Desember, SRBI Jadi Favorit

- Minggu, 07 Desember 2025 | 16:45 WIB
Derasnya Modal Asing Rp14 Triliun Warnai Awal Desember, SRBI Jadi Favorit

Pekan ini, pasar keuangan Indonesia disiram kabar baik. Data dari Bank Indonesia menunjukkan, dalam rentang 1 hingga 4 Desember 2025, aliran modal asing yang masuk ternyata cukup deras mencapai Rp14,08 triliun. Angka yang tak bisa dibilang kecil.

Rinciannya diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso. Menurutnya, arus masuk itu terbagi di beberapa instrumen. Di pasar saham, terjadi pembelian bersih Rp2,11 triliun oleh investor asing. Lalu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatat beli neto Rp1,06 triliun.

Tapi, porsi terbesarnya justru mengalir ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Di sini, masuknya mencapai Rp10,92 triliun. Jadi, SRBI jadi primadona pekan ini.

Namun begitu, jika dilihat dari kaca mata yang lebih panjang, gambaran keseluruhannya agak berbeda. Ramdan menyebutkan, sepanjang tahun 2025 hingga 4 Desember, posisi nonresiden justru masih catat jual neto.

"Selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen sampai dengan 4 Desember 2025, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp27,93 triliun di pasar saham, Rp2,79 triliun di pasar SBN, dan Rp122,14 triliun di SRBI," jelas Ramdan.

Di sisi lain, ada indikator lain yang juga menunjukkan sinyal positif. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia untuk tenor 5 tahun, per 4 Desember, tercatat 71,18 basis poin. Angka ini turun tipis dari posisi akhir November lalu yang 72,45 bps. Penurunan ini kerap dibaca sebagai peningkatan kepercayaan pasar terhadap risiko kredit Indonesia.

Perbandingan imbal hasil surat utang juga menarik. Pada Kamis lalu, yield SBN Indonesia berjangka 10 tahun tercatat turun ke level 6,18 persen. Sementara itu, imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury 10 tahun) justru naik ke 4,098 persen. Selisih atau spread yang semakin menipis ini bisa jadi daya tarik tersendiri bagi investor global yang sedang mencari imbal hasil lebih tinggi.

Menanggapi dinamika ini, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas.

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," pungkas Ramdan.

Jadi, meski arus masuk pekan ini menggembirakan, otoritas tampaknya tak mau berpuas diri. Tantangan di sisa tahun dan memasuki 2026 masih menunggu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler