Rusia memperkenalkan sistem perang elektronik baru yang dirancang untuk mengganggu sinyal satelit Starlink milik SpaceX. Sistem bernama Volna Kupol Garant ini diklaim mampu mencegah serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketergantungan Ukraina pada Starlink untuk komunikasi militer. Sebelumnya, bos SpaceX Elon Musk telah mengizinkan warga Ukraina menggunakan jaringan tersebut, termasuk di wilayah yang diduduki Rusia. Belakangan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga meminta Presiden AS Donald Trump agar Starlink dapat membantu Ukraina dalam penargetan serangan di dalam wilayah Rusia, seperti dilaporkan Fortune.
Berbeda dengan senjata destruktif, Volna Kupol Garant tidak merusak jaringan atau terminal Starlink di darat. Sistem ini justru mengacaukan pancaran sinyal satelit menggunakan gelombang radio terkonsentrasi. Tujuannya adalah mencegah satelit Starlink menerima transmisi dari pengguna di wilayah yang dilaluinya.
Sistem ini terdiri dari enam modul yang dipasang pada trailer. Setiap trailer membawa dua antena satelit yang dapat diarahkan dan terbungkus di bawah kubah pelindung yang tembus gelombang radio. Susunan modular ini memungkinkan antena tetap terpasang pada trailer atau beroperasi di darat secara terpisah, memberikan fleksibilitas lebih besar di berbagai lingkungan operasional.
Volna Kupol Garant mengandalkan sinyal radio frekuensi tinggi dengan pancaran sempit, berbeda dari sistem peperangan elektronik konvensional. Sistem ini menghasilkan interferensi di delapan pita transmisi data Starlink, masing-masing berukuran 62,5 MHz, menggunakan sistem antena susunan bertahap terarah.
Transmisi ini dapat membebani antena receiver di satelit Starlink dalam beberapa waktu. Akibatnya, transmisi sinyal dari terminal di bawah area cakupan tidak dapat ditangkap satelit Starlink di orbit rendah Bumi.
"Volna tidak menghancurkan wahana antariksa secara fisik, tetapi selama 'penerangan' berlangsung, ia memblokir kemampuan satelit tertentu untuk melayani terminal darat," kata Dmitry Kuzyakin, perancang umum Center for Integrated Unmanned Solutions Rusia, dilansir Tech Radar.
Perangkat ini juga memiliki kemampuan untuk mengganggu dan bahkan melumpuhkan operasi pesawat ruang angkasa. Rusia akan mempertahankan kemampuan satelitnya secara agresif, mengingat peran yang semakin penting yang dimainkan satelit dalam peperangan modern. Peran tersebut mencakup mendukung komunikasi, pengumpulan intelijen, navigasi, dan operasi yang melibatkan sistem militer tanpa awak.
Artikel Terkait
Serangan Rudal dan Drone Rusia Tewaskan 17 Orang di Kyiv
Serangan Rusia Hancurkan 8 Juta Buku di Gudang Penerbit Ukraina
Serangan Balasan Ukraina dan Rusia Kembali Memakan Korban
Serangan Drone Ukraina Tewaskan Delapan Orang di Rusia