Komdigi Perkuat Pendampingan Orang Tua untuk Cegah Adiksi Game pada Anak

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 15:40 WIB
Komdigi Perkuat Pendampingan Orang Tua untuk Cegah Adiksi Game pada Anak

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengambil langkah konkret untuk mencegah kecanduan gim pada anak dengan memperkuat pendampingan bagi orang tua. Langkah ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS), yang menekankan kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan sektor swasta dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi anak.

Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah kehadiran layanan Digital Addiction Response Assistance (DARA) dalam peresmian LapakMain Corner di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tunas Muda, Jakarta Selatan. Booth DARA dirancang untuk memberikan pendampingan terstruktur kepada orang tua dalam mengenali gejala adiksi gim sejak dini, memahami cara mengatur penggunaan gawai secara sehat, hingga mendampingi anak memilih gim yang sesuai dengan usia melalui penerapan sistem rating gim.

Selain layanan DARA, Komdigi juga menggelar sosialisasi tentang pentingnya peran orang tua sebagai garda terdepan dalam melindungi anak saat beraktivitas di ruang digital. Orang tua didorong untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak, menetapkan batas waktu penggunaan gawai, serta aktif mendampingi mereka saat mengakses internet maupun bermain gim.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi, Bonafisius Wahyu Pudjianto, menegaskan bahwa perlindungan anak di era digital tidak cukup hanya melalui regulasi, tetapi juga membutuhkan penyediaan ruang yang mendukung tumbuh kembang anak di dunia nyata.

"Melalui PP TUNAS, pemerintah membangun fondasi tata kelola ruang digital yang mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak," kata Bonafisius.

"Kami mengapresiasi kolaborasi bersama Lapakgaming dan BUKA serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadirkan LapakMain Corner. Ini adalah contoh implementasi nyata bahwa perlindungan anak di ruang digital juga harus diimbangi dengan penyediaan ruang belajar, bermain, dan berinteraksi yang aman di dunia nyata," tambahnya.

Menurut Bonafisius, pendampingan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah anak mengalami adiksi gim maupun paparan konten digital yang tidak sesuai usia. Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai bentuk edukasi agar keluarga memiliki bekal dalam membimbing anak memanfaatkan teknologi secara bijak.

Peresmian fasilitas ini juga mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DKI Jakarta, dr. Dwi Oktavia. Menurutnya, keberadaan ruang belajar dan bermain di lingkungan masyarakat dapat membantu menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial anak.

"Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang membuat anak-anak semakin akrab dengan gawai, kehadiran LapakMain Corner di RPTRA sangat penting. Fasilitas ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk tetap berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, sehingga tercipta keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata. Kami sangat mengapresiasi Lapakgaming yang turut memperkuat fungsi RPTRA dalam membangun literasi digital sejak dini," ungkap Dwi Oktavia.

Fasilitas ini menghadirkan berbagai layanan edukatif, mulai dari koleksi buku bacaan, permainan edukatif, hingga sarana literasi digital yang dirancang untuk mendorong kreativitas, interaksi sosial, dan aktivitas belajar anak di luar penggunaan gawai.

Mewakili induk perusahaan, Plt. Direktur Utama BUKA, Natalia Firmansyah, menegaskan pihaknya mendukung penuh berbagai inisiatif yang bertujuan menciptakan ekosistem digital yang lebih aman bagi anak-anak Indonesia.

"Kami percaya bahwa inovasi bukan hanya tentang menghadirkan teknologi, tetapi juga memastikan teknologi membawa manfaat bagi masyarakat. Melalui inisiatif utama ini, kami berkomitmen untuk terus mendukung literasi digital, perlindungan anak, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan," kata Natalia.

"Kami mengajak pemerintah, dunia usaha, komunitas, sekolah, dan keluarga untuk bersama-sama menciptakan ekosistem digital yang aman, sehat, dan produktif bagi generasi penerus bangsa," sambungnya.

Natalia mengatakan perlindungan anak di era digital membutuhkan sinergi lintas sektor. Karena itu, proyek ini tidak hanya menghadirkan ruang bermain dan belajar bagi anak, tetapi juga melibatkan partisipasi karyawan BUKA melalui donasi buku dan mainan edukatif, serta memberdayakan pelaku usaha lokal dalam proses pembangunannya.

Selain layanan edukasi digital, rangkaian kegiatan peresmian juga diisi dengan sesi mendongeng interaktif untuk anak-anak dan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi ibu dan anak. Sebelumnya, Lapakgaming juga telah menggelar sesi edukasi mengenai penggunaan gawai secara bijak di SMAN 44 Jakarta sebagai bagian dari kampanye literasi digital.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Komdigi berharap upaya pencegahan adiksi game pada anak dapat berjalan lebih efektif. Pendampingan orang tua, edukasi yang berkelanjutan, serta penyediaan ruang belajar dan bermain yang aman dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem digital yang sehat dan produktif bagi generasi muda Indonesia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags