Larangan Medsos di Australia Belum Efektif, 8 dari 10 Remaja Masih Akses Platform

- Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:42 WIB
Larangan Medsos di Australia Belum Efektif, 8 dari 10 Remaja Masih Akses Platform

Larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun di Australia belum berjalan efektif. Badan pengawas internet Australia, eSafety Commissioner, menemukan lebih dari 8 dari 10 remaja masih menggunakan media sosial tiga bulan setelah kebijakan itu diberlakukan. eSafety menyebut kegagalan perusahaan teknologi menerapkan sistem verifikasi usia yang efektif sebagai penyebab utama fenomena ini.

Studi yang dipublikasikan eSafety pada Jumat lalu mengungkap bahwa mayoritas anak berusia 10 hingga 15 tahun tetap menggunakan media sosial dengan frekuensi yang hampir sama seperti sebelum larangan berlaku pada 10 Desember 2025. Studi tersebut juga menemukan kesadaran orang tua terhadap kebiasaan bermedia sosial anak-anak mereka justru menurun sejak larangan diterapkan.

Sebelum larangan berlaku, hampir 86% anak yang disurvei mengaku menggunakan setidaknya satu platform berbatas usia. Tiga bulan kemudian, angka tersebut hanya turun tipis menjadi di atas 81%. Sekitar 58% remaja mengaku menggunakan media sosial setiap hari atau lebih sering, hanya turun sedikit dari sekitar 60% sebelum larangan diberlakukan.

Meski demikian, angka kepemilikan akun tercatat menurun dari 52% menjadi 42%. eSafety mencatat penurunan yang signifikan secara statistik khususnya terjadi pada platform YouTube, Snapchat, dan TikTok.

Sekitar separuh anak yang masih memiliki akun mengaku platform tidak pernah memeriksa usia mereka. Alasan ini menjadi faktor paling umum yang membuat mereka tetap bisa mengakses layanan tersebut. Sebagian anak lainnya menyebut akun mereka tercatat berusia 16 tahun ke atas, atau sistem verifikasi usia keliru menentukan usia mereka di atas batas yang ditetapkan.

Pemerintah Australia sebelumnya memperkenalkan larangan remaja di bawah 16 tahun untuk mengakses medsos, sebagai kebijakan pertama di dunia karena mengkhawatirkan dampak media sosial terhadap kesehatan mental dan fisik anak-anak serta remaja. Penerapan kebijakan ini pun tengah dipantau ketat oleh banyak negara lain yang berencana menerapkan pembatasan serupa.

Studi tersebut turut mencatat, larangan ini berpotensi menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, termasuk menurunnya kesadaran orang tua terhadap aktivitas bermedia sosial anak-anak mereka. eSafety menilai kondisi ini dapat memengaruhi perilaku mencari bantuan serta upaya identifikasi bahaya daring, karena berkurangnya kesadaran orang tua berpotensi membatasi peluang dukungan atau intervensi dini terhadap anak.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags