Australia Gugat Telegram, Denda Rp570 Miliar Gara-gara Konten Terorisme

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 17:55 WIB
Australia Gugat Telegram, Denda Rp570 Miliar Gara-gara Konten Terorisme

Regulator keamanan internet Australia, eSafety Commissioner, mengambil langkah hukum terhadap Telegram. Platform pesan itu dinilai gagal menghapus konten terorisme yang telah dilaporkan, sehingga berpotensi dikenai denda hingga 54,6 juta dolar Australia atau sekitar Rp570 miliar.

eSafety menuding Telegram membiarkan video eksekusi teroris, penembakan massal, dan materi ekstremis lainnya tetap dapat diakses. Beberapa konten yang dipersoalkan terkait dengan serangan teror, termasuk penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019, dan penembakan di sebuah supermarket di Buffalo, Amerika Serikat, pada 2022.

Komisioner eSafety Julie Inman Grant mengatakan, konten tersebut diduga tetap bisa diakses meski Telegram sudah diberi tahu. Menurut eSafety, Telegram gagal menghapus konten pro-terorisme yang dilaporkan antara Juli dan Oktober 2025. Platform itu juga dinilai tidak menangguhkan akun yang menyebarkan konten tersebut.

"Konten ini tetap dapat diakses di layanan tersebut jauh setelah Telegram diberi tahu," kata Grant dalam sebuah pernyataan.

Grant menambahkan, langkah hukum ini diambil ketika Australia menghadapi situasi keamanan yang semakin mengkhawatirkan. Ia juga menyinggung tragedi Bondi, penembakan massal bermotif antisemitisme di sebuah pantai di Sydney yang menewaskan 15 orang pada tahun lalu.

Telegram membantah tuduhan tersebut dan menyatakan akan melawan kasus ini di pengadilan. Perusahaan itu juga mengklaim telah memblokir ribuan komunitas ekstremis pada 2026.

Rusia tuduh pendiri Telegram bantu aktivitas terorisme

Langkah hukum Australia terhadap Telegram muncul sehari setelah Rusia menjerat pendiri Telegram, Pavel Durov, dengan tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme. Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) juga mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Durov. Otoritas Rusia mengklaim platform tersebut digunakan oleh pihak-pihak dari Ukraina untuk mengatur serangan di dalam wilayah Rusia.

Tak lama setelah kabar mengenai surat perintah tersebut beredar, akun Telegram di X mengunggah foto Durov yang terlihat mengacungkan jari tengah ke arah kamera.

Durov, miliarder kelahiran Rusia yang kini tinggal di Dubai, mendirikan Telegram bersama saudaranya, Nikolai Durov. Aplikasi tersebut diluncurkan pada 2013 dan kini memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif setiap bulan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags