Belajar Optimal Ternyata Tak Cuma Soal Otak, Tapi Juga Soal Perasaan

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 21:06 WIB
Belajar Optimal Ternyata Tak Cuma Soal Otak, Tapi Juga Soal Perasaan

Belajar itu bukan cuma soal otak. Percaya atau tidak, perasaan kita sedang senang, stres, atau cemas punya pengaruh besar terhadap seberapa baik kita menyerap dan mengingat pelajaran. Kalau emosi sedang stabil, fokus dan ingatan biasanya ikut terjaga. Tapi coba bayangkan saat kita dikejar deadline atau dilanda kecemasan akan nilai, rasanya sulit sekali berkonsentrasi, bukan? Materi yang dibaca pun seolah mudah menguap.

Tekanan akademik, mau tak mau, jadi bagian dari keseharian pelajar dan mahasiswa. Tuntutan prestasi, seabrek tugas, dan persaingan kerap memicu stres. Menurut sejumlah pengamatan, kondisi emosional semacam ini langsung berdampak pada kualitas belajar. Makanya, memahami kaitan antara perasaan dan kerja otak ini jadi hal yang krusial.

Emosi, baik yang positif maupun negatif, punya andil besar. Rasa percaya diri dan motivasi bisa mendorong kita lebih terlibat dalam proses belajar. Sebaliknya, rasa frustrasi atau cemas berlebihan justru menghambat. Stres akademik, misalnya, muncul ketika tuntutan belajar terasa jauh melampaui kemampuan yang kita miliki. Dampaknya tak cuma pada kesehatan mental, tapi juga fungsi kognitif kita.

Nah, coba kita lihat konsentrasi. Kemampuan memusatkan perhatian ini sangat rentan diganggu oleh gejolak emosi. Pikiran yang dipenuhi kekhawatiran akan kegagalan atau penilaian orang lain pasti sulit fokus. Perhatian jadi terpecah sebagian ke materi, sebagian lagi ke hal-hal yang mencemaskan.

Di sisi lain, mereka yang punya kecerdasan emosional baik biasanya lebih mampu mengelola perasaannya. Mereka bisa mengenali ketika kecemasan mulai muncul dan punya cara untuk menenangkan diri. Hasilnya? Mereka lebih bisa menjaga fokus meski situasi sedang menekan.

Bagaimana dengan memori? Proses mengingat mulai dari menangkap informasi, menyimpannya, sampai memanggilnya kembali juga dipengaruhi emosi. Suasana hati yang positif seringkali membuat kita lebih termotivasi, sehingga informasi lebih mudah melekat dalam ingatan jangka panjang.

Tapi saat stres melanda, kapasitas otak seolah penuh. Akibatnya, kita jadi mudah lupa atau kesulitan mengingat hal-hal yang sebenarnya sudah dipelajari. Ini sering dialami mereka yang mengalami tekanan akademik berkepanjangan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Kecerdasan emosional dan strategi mengatasi stres (koping) memegang peran kunci. Kemampuan untuk mengenali emosi diri, mengelolanya, lalu memotivasi diri sendiri sangat membantu. Strategi koping yang adaptif misalnya dengan mencari solusi langsung atas masalah bisa menjaga kestabilan emosi. Dengan begitu, konsentrasi dan memori tetap bisa berfungsi optimal.

Pelajaran pentingnya jelas: aspek emosional tak boleh diabaikan dalam pendidikan. Lingkungan belajar yang nyaman, dukungan psikologis, dan pelatihan pengelolaan emosi seharusnya jadi perhatian lembaga pendidikan. Tujuannya sederhana: membantu peserta didik mengatasi tekanan, sehingga mereka bisa belajar dengan lebih efektif.

Singkatnya, mengelola perasaan bukanlah hal sekunder. Itu adalah bagian penting dari proses belajar itu sendiri. Emosi yang stabil mendukung fokus dan ingatan, sementara stres dan kecemasan justru mengganggunya. Maka, menguatkan kecerdasan emosional dan keterampilan mengelola tekanan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar pembelajaran bisa benar-benar optimal dan berkelanjutan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar