Komunitas Sahabat Masjid (Sajid) menggelar pengajian putaran ke-20 di Masjid Darussalam, Taman Cimanggu, Kota Bogor, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan ini bertepatan dengan Hari Masjid Sedunia yang ditetapkan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengenang pembakaran Masjid Al-Aqsha pada 21 Agustus 1969.
“Hari Masjid Sedunia disahkan oleh Organisasi Kerja Sama Islam untuk mengenang pembakaran Masjid Al-Aqsha. Itu adalah perbuatan terkutuk dan zalim,” ujar Pembina Sajid KH Didin Hafidhuddin.
Ia mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 114 yang mengecam orang-orang yang menghalangi manusia beribadah di masjid dan berusaha menghancurkan rumah Allah.
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang (orang lain) menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha merobohkannya? Mereka mendapat kehinaan di dunia dan azab yang berat di akhirat.”
Menurutnya, orang yang istiqamah memakmurkan masjid adalah ciri orang beriman yang senantiasa menebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Karenanya, ia mengajak umat Islam untuk memakmurkan masjid melalui berbagai aktivitas yang bermanfaat, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial.
Ia menjelaskan bahwa fungsi utama masjid adalah sebagai tempat kaum Muslimin beribadah secara berjamaah dalam rangka meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Karena itu, suasana masjid harus dibuat nyaman bagi seluruh jamaah, termasuk anak-anak.
“Jangan mengusir anak-anak hanya karena mereka ribut. Yang benar adalah ditertibkan dan dibimbing. Masjid harus menjadi rumah yang ramah bagi generasi penerus,” katanya.
Lebih jauh, Kiai Didin menegaskan bahwa masjid juga harus menjadi benteng yang melindungi masyarakat dari berbagai ancaman moral seperti pergaulan bebas dan penyimpangan seksual. “Masjid adalah tempat yang aman bagi umat dan membentengi generasi muda dari bahaya pergaulan bebas, LGBT, dan berbagai kerusakan akhlak,” ujarnya.
Ketua Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu menyerukan untuk mengembalikan masjid pada fungsi hakikinya: bukan sekadar tempat shalat, tetapi pusat persatuan, pembinaan akhlak, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Selain sebagai pusat ibadah, Kiai Didin menekankan bahwa masjid memiliki fungsi strategis untuk menyatukan hati, pemikiran, dan gerakan kaum Muslimin.
Ia menyebut konsep ta’liful qulub (menyatukan hati) sebagai fondasi persatuan umat agar lahir kekuatan dan izzah Islam di tengah masyarakat. “Masjid harus menyatukan hati kaum Muslimin, menyatukan fikrah dan gerakan, sehingga umat memiliki kekuatan,” tegasnya.
Fungsi berikutnya, lanjut Kiai Didin, adalah menjadikan masjid sebagai pusat kesejahteraan jamaah. Menurutnya, pengurus masjid tidak boleh membiarkan ada jamaah yang hidup dalam kefakiran tanpa perhatian.
“Jangan sampai ada jamaah yang fakir. Masjid harus membangun kegiatan sosial dan ekonomi agar kesejahteraan jamaah ikut terangkat,” katanya.
Menutup tausiyahnya, Kiai Didin berharap pertemuan rutin Sajid terus mendapat dukungan masyarakat. Ia menegaskan bahwa DNA umat Islam adalah berjamaah, sehingga masjid harus kembali menjadi pusat seluruh aktivitas ibadah dan muamalah.
“Mudah-mudahan masjid benar-benar menjadi pusat kegiatan ibadah sekaligus pusat membangun peradaban,” pungkasnya.
Artikel Terkait
MUI Serukan Hari Masjid Sedunia Jadi Momentum Perjuangan Pembebasan Al-Aqsha
Hari Masjid Sedunia, API Jabar Ajak Khatib Jumat Angkat Isu Al-Aqsha
Ulama KH Didin Hafidhuddin: Hukum yang Dipermainkan Akan Menghancurkan Bangsa
Ketua BKsPPI Dorong Pemerintah Segera Susun UU Pelarangan LGBT