Ustaz Budi Ashari kembali menyoroti salah satu bagian Al-Qur'an yang jarang dibahas, yaitu doa terakhir Nabi Nuh AS dalam Surat Nuh. Dalam sebuah wawancara yang diunggah di kanal YouTube-nya pada Jumat (21/8/2026), ia menjelaskan bahwa doa tersebut menjadi penanda berakhirnya masa dakwah dan dimulainya azab bagi kaum yang mendustakan.
Dalam ayat itu, Nabi Nuh berdoa agar Allah tidak menyisakan satu pun rumah orang kafir di muka bumi. Alasannya, jika masih ada yang tersisa, dikhawatirkan keturunan mereka akan mewarisi kekufuran yang sama seperti orang tuanya. "Kalau masih ada rumah orang kafir di bumi ini, nanti kalau mereka punya keturunan, ya sama kayak bapak-bapaknya," kata Ustaz Budi Ashari.
Ia kemudian mengaitkan hal ini dengan fenomena yang disebutnya sebagai "potong generasi", di mana kedurhakaan diwariskan turun-temurun dari orang tua kepada anak-cucu selama ratusan tahun. Menurutnya, kondisi itu sangat berbeda dengan sikap Nabi Muhammad SAW saat menghadapi penolakan di Thaif. Meski dilempari batu, Nabi tetap menyimpan harapan agar keturunan penduduk Thaif kelak menjadi generasi yang beribadah kepada Allah.
"Bapaknya enggak bisa diharap. Nabi dilempari di Thaif, tapi Nabi masih punya harapan, aku masih berharap kelak lahir dari tulang sulbi mereka generasi yang mau beribadah pada Allah," ujarnya.
Ustaz Budi menutup pembahasan dengan menekankan bahwa kisah Nabi Nuh memberikan pesan mendalam tentang pentingnya mendidik generasi penerus. Doa Nabi Nuh yang meminta ampunan untuk kedua orang tua dan siapa pun yang memasuki rumahnya dalam keadaan beriman menjadi penutup dari perjalanan dakwahnya yang panjang, yaitu 950 tahun.
Artikel Terkait
Kisah Nabi Nuh: Titik Terendah dan Tawakal yang Mengubah Segalanya
Ustaz Budi Ashari: Kemerdekaan dan Pesan Kapal Nabi Nuh untuk Indonesia
Ustaz Budi Ashari: Ajarkan Tauhid pada Anak Lewat Peristiwa Sehari-hari