Ustaz Budi Ashari: Kemerdekaan dan Pesan Kapal Nabi Nuh untuk Indonesia

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Ustaz Budi Ashari: Kemerdekaan dan Pesan Kapal Nabi Nuh untuk Indonesia

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Ustaz Budi Ashari mengajak publik merenungkan makna kemerdekaan melalui kisah Nabi Nuh AS dan bahteranya. Dalam sebuah perbincangan santai yang diunggah di kanal YouTube pada Jumat (14/8/2026), ia menautkan simbol kapal dengan perjalanan bangsa Indonesia yang tengah menghadapi berbagai persoalan sosial.

Obrolan yang diawali dengan candaan tentang secangkir kopi pahit itu berubah menjadi diskusi mendalam. Salah satu pembawa acara mengungkapkan keresahan bahwa semangat 'merdeka' yang diteriakkan setiap tahun mulai kehilangan makna. Menanggapi hal itu, Ustaz Budi Ashari mengaitkannya dengan makna warna bendera Merah Putih. "Merah tidak terlihat gagah, putih terlihat subur," ujarnya, menggambarkan kondisi bangsa di mana keberanian mulai lusuh dan kesucian mulai luntur.

Ustaz Budi Ashari, yang sepanjang Agustus ini membawakan serial ceramah tentang Nabi Nuh, menegaskan bahwa kapal dalam kisah tersebut bukan sekadar objek fisik, melainkan simbol keselamatan. "Kapal itu ilustrasi dari kata keselamatan," katanya, mengutip ungkapan seorang penyair bahwa seseorang yang berharap keselamatan harus menempuh jalannya, sebab "kapal itu tidak akan pernah berlayar di daratan".

Dari titik itu, ia mengajak memandang Indonesia sebagai sebuah kapal dari Sabang sampai Merauke yang harus dijalani bersama di tengah lautan kehidupan. Dalam kisah Nabi Nuh, hanya segelintir orang yang selamat, sementara mayoritas tidak menyadari perlunya penyelamatan karena merasa baik-baik saja, dan baru sadar ketika azab datang.

Menyelamatkan Bibit Generasi

Salah satu poin yang paling ditekankan adalah gagasan "menyelamatkan bibit" manusia, hewan, dan tumbuhan yang dibawa Nabi Nuh sebagai modal kehidupan pasca-bencana. Ustaz Budi Ashari menyebut bahwa semua kehidupan yang bertahan hingga kini adalah kelanjutan dari bibit yang berhasil diselamatkan. "Andai kita mencoba untuk punya fokus pada memilih bibit, mungkin enggak semua bisa kita bawa," katanya, mengajak membangun tempat, komunitas, atau kebersamaan untuk menyelamatkan bibit-bibit bangsa Indonesia yang kelak melanjutkan perjalanan setelah masa sulit.

Diskusi juga menyinggung persoalan sosial aktual, seperti data pengangguran, tingginya angka sarjana yang belum bekerja, janji lapangan kerja yang belum terealisasi, hingga data stunting yang dirilis negara sendiri. Ustaz Budi Ashari menyampaikan keprihatinannya atas tanggung jawab para pemimpin di hadapan Allah terkait persoalan-persoalan tersebut. Ia mengingatkan kisah Khalifah Umar bin Khattab yang merasa takut dimintai pertanggungjawaban oleh Allah hanya karena seekor kambing terperosok di Irak, sementara ia berada jauh di Madinah. "Itu kambing tuh jadi pertimbangan, manusia stunting terjadi pertimbangan itu," ujarnya, menyoroti besarnya beban moral seorang pemimpin. Ia juga menyayangkan fenomena pemimpin yang kerap menjadi bahan olok-olok, padahal dalam Islam kepemimpinan semestinya dihormati dan dimuliakan agar memiliki wibawa.

Tafsir Lima Ayat Surat As-Saffat

Menutup perbincangan, Ustaz Budi Ashari mengajak merenungi lima ayat pendek dalam Surat As-Saffat ayat 75-79 yang berkisah tentang Nabi Nuh. Ia menjelaskan makna ayat pertama: "Sungguh, sebaik-baik yang mengabulkan doa, yang menjawab doa, adalah Kami," yang menegaskan bahwa titik awal keselamatan dimulai dari doa dan pengaduan Nabi Nuh kepada Allah di tengah himpitan berat. Ia melanjutkan dengan ayat tentang penyelamatan Nabi Nuh beserta keluarganya dari bencana besar, lalu tentang keturunan Nabi Nuh yang dijadikan sebagai kelanjutan kehidupan yang abadi. "Justru kehidupan ini akan terus berjalan dengan kesadaran segelintir orang di atas kapal," katanya, menegaskan bahwa harapan keberlangsungan bangsa ada pada mereka yang tetap sadar dan berjuang di tengah krisis. Ayat terakhir mengabadikan pujian baik bagi Nabi Nuh di kalangan generasi setelahnya serta ucapan salam kesejahteraan untuknya di seluruh alam.

Melalui perbincangan bertema "Kapal Nuh untuk Indonesia" itu, Ustaz Budi Ashari mengajak masyarakat untuk tidak sekadar merayakan kemerdekaan secara seremonial, tetapi juga menggali nilai-nilai keselamatan dari kisah Nabi Nuh: pentingnya doa dan pengaduan kepada Allah, kesadaran kolektif segelintir orang yang mau berjuang, serta upaya menjaga "bibit" generasi bangsa agar keberanian dan kesucian yang dilambangkan Merah Putih dapat kembali hidup di tengah berbagai persoalan sosial yang masih membelit.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags