Kasus yang menimpa Fathimah baru-baru ini memancing reaksi beragam. Di satu sisi terasa lucu, di sisi lain menyedihkan. Ini adalah fenomena klasik dalam politik identitas di negeri ini, hanya saja kali ini korbannya adalah seorang perempuan. Pola serangan yang dilancarkan kepadanya pun bergeser: sebelumnya ia dituduh sebagai pengikut sekte Syi'ah, kini tuduhan beralih menjadi imigran Yaman.
Di titik inilah letak persoalannya. Para penyerang tampaknya sudah kehabisan jurus. Mereka tidak mampu menyerang pemikiran atau argumen Fathimah secara langsung, sehingga memilih jalan pintas yang paling mudah dan murah: menyerang pribadi dan asal-usulnya. Dalam ilmu politik, cara semacam ini disebut delegitimasi. Tujuannya hanya satu, membuat publik tidak perlu mendengarkan apa yang diucapkannya. Begitu seseorang dicap sebagai imigran atau penganut sesat, otomatis semua kata-katanya dianggap tidak valid.
Menariknya, dua tuduhan yang dilontarkan justru saling bertolak belakang. Syi'ah biasanya identik dengan afiliasi ke Iran dan dianggap sebagai pembaharu oleh sebagian kalangan. Sementara itu, imigran Yaman merujuk pada akar Hadramaut yang mayoritas Sunni dan berseberangan dengan Syi'ah. Bagaimana mungkin ia dituduh dua hal yang saling bertabrakan? Jawabannya sederhana: yang penting bukanlah kebenaran faktual, melainkan efek negatif yang menempel. Mereka hanya butuh stempel negatif yang sedang populer. Jika tuduhan Syi'ah mulai dianggap basi, mereka tinggal mengganti dengan narasi xenofobia agar tetap menggigit.
Meski terdengar aneh, serangan semacam ini sebenarnya bisa menjadi pertanda baik bagi Fathimah. Ketika lawan mulai bermain di level ini, itu artinya kehadirannya dianggap mengancam posisi mereka.
Artikel Terkait
Serangan Identitas ke Fathimah: Cermin Politik yang Sama, Target yang Berbeda
Aksi BEM UI di Bundaran HI Dihadang Barikade Aparat, Mahasiswa Tertahan di Jalan Sudirman
Dua Mahasiswa, Satu Polemik: Tiyo dan Fathimah Jadi Sorotan Warganet