Serangan Identitas ke Fathimah: Cermin Politik yang Sama, Target yang Berbeda

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:20 WIB
Serangan Identitas ke Fathimah: Cermin Politik yang Sama, Target yang Berbeda

Serangan terhadap Fathimah, mahasiswi yang memimpin aksi protes terhadap pemerintah, tidak lagi berfokus pada substansi kritiknya. Alih-alih membantah argumennya, sejumlah pihak justru menyerang identitasnya sebagai perempuan Arab-Indonesia berhijab, bahkan menuduhnya sebagai Syiah dengan agenda tersembunyi. Fenomena ini memantik pertanyaan: apakah politik Indonesia sedang kembali menggunakan identitas sebagai senjata untuk mendiskreditkan lawan?

Kezia Dewi, seorang dosen yang menuliskan pandangannya, mengaku tidak memuja Fathimah. Ia melihat mahasiswi itu seperti mahasiswanya sendiri: muda, berani, cerdas, dan mampu mengartikulasikan kritik. Baginya, anak muda seperti Fathimah justru yang ingin ia lihat di ruang akademik. "Jangan matikan daya kritis mahasiswa Indonesia," tulisnya.

Namun, yang menarik dari serangan terhadap Fathimah adalah pola yang berulang. Ketika argumennya sulit dibantah, identitasnya mulai dipertanyakan. Mulai dari soal keturunan Arab, hijab, hingga tuduhan Syiah dan makian bernada rasis. Kezia pun membayangkan: bagaimana jika ikon demonstrasi ini adalah perempuan China-Indonesia berkalung salib? Apakah serangannya akan berubah menjadi "Cina", "Kristen", "agenda aseng", atau "tidak nasionalis"?

Pola ini, menurut Kezia, sudah pernah terjadi. Pada masa Orde Baru, keturunan China dijauhkan dari politik. Setelah Reformasi, ruang itu terbuka, tetapi ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi lawan politik yang kuat, identitas China dan Kristennya kembali diserang. Ironisnya, setelah pengalaman Ahok dan mobilisasi 212, sebagian pendukung Jokowi membangun politik ketakutan yang berlawanan: minoritas harus takut pada Islamisme hingga level paranoid. Narasi ini dipupuk oleh buzzer politik, misalnya dengan mempopulerkan sebutan "KPK Taliban". Pada pemilu terakhir, narasi ketakutan terhadap "Islam" turut menjerumuskan bangsa, sehingga kini hadir presiden yang dianggap membangkrutkan negara.

Kezia mengaku memahami ketakutan terhadap politik Islam yang intoleran. Ia sendiri mengetahui kasus-kasus kelompok Islamis yang ingin memaksakan keyakinan. Namun, ia menegaskan, jika dulu kita marah ketika Ahok dicurigai karena Cina dan Kristen, bagaimana mungkin sekarang menggunakan logika yang sama terhadap seorang perempuan muda karena keturunan Arab, Muslim, dan berhijab? "Rupanya yang menyerang Fathimah logikanya persis dengan bani 212," tulisnya. Yang berubah hanya targetnya: dulu "Cina Kristen", sekarang "Arab, hijab, Syiah, Islamis".

Ia mengkritik praktik weaponize identitas ini. Menurutnya, jika tidak setuju dengan politik seseorang, kritiklah argumen, tuntutan, atau datanya. "Itu kalau otaknya mampu, kebanyakan sih membeo klaimnya pemerintah," sindirnya. Namun, jangan jadikan etnis, agama, hijab, salib, atau asal-usul keluarga sebagai alasan untuk menentukan apakah seorang anak muda Indonesia berhak bersuara. "Hanya orang yang hidup seperti katak dalam tempurung yang mengira bahwa perempuan berhijab bodoh semua," tegasnya.

Ia juga menyoroti upaya mengecilkan mahasiswa dengan dalih usia. "Mereka masih muda, belum tahu apa-apa, jadi sebaiknya diam," begitu kira-kira argumen yang beredar. Namun, Kezia menilai, meski pola pikir mereka mungkin belum sempurna, mereka tidak lebih bodoh daripada orang-orang yang lebih tua. Usia mereka sudah cukup untuk ikut bersuara bagi bangsa. "Masih mendingan para mahasiswa itu peka terhadap fenomena di sekitar mereka, daripada orang tua-tua usia di atas 40 tapi cuma mampu menjilati dan menyeboki pemerintah!" tulisnya.

Pada akhirnya, Kezia menegaskan bahwa Indonesia tidak membutuhkan mahasiswa yang takut berpikir karena sadar dirinya minoritas. Negeri ini membutuhkan generasi muda Arab, China, Jawa, Muslim, Kristen, berhijab ataupun tidak yang merasa negara ini milik mereka sehingga berani mengkritiknya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terpopuler